Thursday, 10 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Anjing Mendadak Hiperaktif? Waspadai 6 Ciri Rabies yang Mengancam Jiwa

Oleh Destian September 10, 2026 50 minutes lalu 0 komentar

Peningkatan kasus gigitan hewan yang berpotensi menularkan rabies di berbagai daerah mengharuskan masyarakat untuk lebih waspada. Salah satu indikator penting adalah perubahan perilaku ekstrem pada anjing, seperti mendadak menjadi sangat agresif atau gelisah. Rabies, penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat, dapat dikenali melalui serangkaian gejala spesifik pada hewan, terutama anjing sebagai reservoir utama.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis yang paling mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang menyerang sistem saraf pusat, dan dapat ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi, terutama anjing. Gejala rabies pada anjing dapat bervariasi, namun beberapa ciri khas perlu diwaspadai oleh pemilik hewan maupun masyarakat umum.

Salah satu ciri yang paling mencolok adalah perubahan perilaku yang drastis. Anjing yang sebelumnya tenang bisa tiba-tiba menjadi sangat agresif, mudah marah, dan menyerang tanpa provokasi. Perilaku ini seringkali merupakan manifestasi dari virus yang menyerang otak. Di sisi lain, beberapa anjing rabies justru menunjukkan fase ‘melankolis’ atau ‘depresi’, di mana mereka menjadi lesu, menarik diri, dan enggan berinteraksi.

Ciri lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan pada suara. Anjing yang terinfeksi rabies seringkali mengeluarkan gonggongan yang berbeda dari biasanya, terdengar serak, atau bahkan mengeluarkan suara seperti melolong. Perubahan ini disebabkan oleh gangguan pada pita suara dan otot tenggorokan akibat serangan virus.

Gejala fisik juga dapat muncul, seperti air liur yang berlebihan hingga menetes-netes. Hal ini terjadi karena anjing kesulitan menelan akibat kelumpuhan otot tenggorokan. Terkadang, anjing juga menunjukkan kesulitan bernapas. Dalam beberapa kasus, hewan penderita rabies dapat terlihat seperti tersedak atau kesulitan minum.

Perubahan pola makan dan minum juga menjadi indikator penting. Anjing rabies mungkin menunjukkan ketakutan terhadap air (hidrofobia) yang ekstrem, sehingga mereka menolak minum meskipun sangat haus. Sebaliknya, ada pula yang menunjukkan nafsu makan meningkat secara tidak normal, bahkan memakan benda-benda yang bukan makanan.

Selain itu, kelumpuhan dapat menjadi gejala yang muncul. Kelumpuhan ini biasanya dimulai dari bagian belakang tubuh, seperti kaki belakang, dan perlahan menjalar ke seluruh tubuh. Kelumpuhan pada rahang juga sering terlihat, membuat mulut anjing terbuka dan lidahnya menjulur keluar.

Mengingat potensi bahaya rabies, langkah pencegahan dan kewaspadaan dini sangat krusial. Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan di berbagai daerah secara rutin mengimbau masyarakat untuk tidak memelihara anjing liar, segera melaporkan jika menemukan anjing yang menunjukkan gejala mencurigakan, serta melakukan vaksinasi rabies secara rutin pada hewan peliharaan. Jika terjadi gigitan oleh hewan yang dicurigai rabies, tindakan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan pasca pajanan (PEP) adalah langkah penyelamat nyawa yang tidak boleh ditunda.

Bagikan: Facebook X WhatsApp