Thursday, 10 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Krisis Lingkungan di Everest: 154 Ton Es Meleleh Tiap Musim Akibat Air Kencing Pendaki

Oleh Destian September 10, 2026 59 minutes lalu 0 komentar

Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia, menghadapi ancaman lingkungan serius yang tidak terduga. Studi terbaru mengungkapkan bahwa sekitar 154 ton es di kawasan tersebut meleleh setiap musim pendakian, bukan semata-mata karena perubahan iklim, melainkan juga akibat akumulasi air kencing dari ribuan pendaki yang melakukan aktivitasnya di sana. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap ekosistem rapuh di ketinggian ekstrem.

Temuan mengejutkan ini dipublikasikan oleh tim peneliti dari Universitas Zhejiang, Tiongkok, yang menganalisis sampel salju dan es di Everest. Mereka menemukan bahwa urin pendaki, yang kaya akan nitrogen, berinteraksi dengan es dan salju, mempercepat proses pencairan. Angka 154 ton per musim diperkirakan berasal dari perkiraan jumlah pendaki dan volume urin yang dihasilkan.

Menurut Dr. Yang Ming, salah satu peneliti utama dalam studi tersebut, seperti dikutip oleh media Tiongkok, “Air kencing pendaki mengandung urea dan senyawa nitrogen lainnya. Ketika senyawa ini bercampur dengan es dan salju, mereka bertindak sebagai agen yang menurunkan titik beku, sehingga mempercepat pencairan.” Peneliti juga mencatat bahwa tanpa adanya fasilitas sanitasi yang memadai di ketinggian tersebut, sebagian besar urin dibiarkan begitu saja di atas gunung.

Masalah ini telah lama menjadi perhatian para aktivis lingkungan dan otoritas Nepal. Kepadatan pendaki di Everest, terutama selama musim pendakian puncak di bulan Mei, telah meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir. Setiap tahun, ribuan orang berusaha menaklukkan Everest, membawa serta barang bawaan, makanan, dan menciptakan volume sampah yang signifikan, termasuk limbah biologis.

Sebelumnya, pihak berwenang Nepal telah berupaya mengatasi masalah sampah dengan memberlakukan aturan ketat, seperti kewajiban membawa turun sampah padat. Namun, penanganan limbah cair, seperti urin, masih menjadi tantangan besar. Ketiadaan sistem pembuangan atau pengolahan limbah yang efektif di kamp-kamp pendakian, terutama di ketinggian seperti Kamp Dasar, membuat urin mengumpul dan meresap ke dalam lapisan es.

Dampak dari pencairan es yang dipercepat ini tidak hanya terbatas pada hilangnya massa es. Air yang mencair membawa serta bakteri dan kontaminan lain yang dapat mencemari sumber air di lembah-lembah di bawahnya. Selain itu, perubahan komposisi es dan salju dapat mempengaruhi stabilitas gunung dan meningkatkan risiko longsoran salju atau batu.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata Nepal, pejabat terkait menyatakan keprihatinan mendalam atas temuan ini. “Kami menyadari masalah ini dan sedang menjajaki solusi yang memungkinkan. Kami berkomitmen untuk menjaga kelestarian Everest, namun implementasi solusi di ketinggian ekstrem memiliki tantangan teknis dan logistik yang signifikan,” ujar seorang juru bicara kementerian yang tidak disebutkan namanya.

Para ahli lingkungan mendesak adanya tindakan segera dan kolaboratif antara pemerintah Nepal, Tiongkok, komunitas pendaki internasional, dan para pemandu gunung. Beberapa usulan yang muncul antara lain pengembangan toilet portabel yang lebih efisien, program edukasi yang lebih intensif bagi para pendaki mengenai dampak lingkungan, serta penelitian lebih lanjut mengenai teknologi pengolahan limbah di lingkungan ekstrem.

Pihak berwenang Nepal dijadwalkan akan mengadakan pertemuan dengan perwakilan dari berbagai pemangku kepentingan pada awal bulan depan untuk membahas strategi penanganan masalah lingkungan di Everest, termasuk isu pencairan es akibat limbah pendaki.

Bagikan: Facebook X WhatsApp