Roti garam atau ‘shio pan’ yang berasal dari Jepang kini tengah menjadi fenomena kuliner global, merambah dari Negeri Sakura ke Korea Selatan, dan kini mulai mencuri perhatian para pecinta kuliner di Indonesia. Keunikan tekstur yang renyah di luar namun lembut di dalam, berpadu dengan rasa gurih asin yang khas, menjadikan roti ini primadona baru di berbagai kafe dan toko roti.
Fenomena ‘shio pan’ pertama kali mencuat di Jepang, diperkenalkan oleh toko roti Jepang yang kemudian menyebar popularitasnya. Namun, gelombang besar yang membawa roti ini ke kancah internasional lebih banyak dipicu oleh tren di Korea Selatan. Sejak sekitar tahun 2020, berbagai media dan platform media sosial di Korea Selatan ramai membahas kelezatan roti ini, menjadikannya buruan utama di berbagai kafe dan toko roti di sana.
Menurut laporan dari berbagai media Korea Selatan seperti Chosun Ilbo, ‘shio pan’ menjadi salah satu ‘must-try item’ bagi para foodies di Korea. Antrean panjang kerap terlihat di toko-toko roti ternama yang menjualnya. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pemasaran yang cerdas dan promosi melalui influencer kuliner yang membuat roti ini semakin viral.
Di Indonesia, tren ‘salt bread’ mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah kafe dan toko roti modern, baik yang berskala besar maupun UMKM, berlomba-lomba menghadirkan varian roti garam mereka. Beberapa kafe di Jakarta dan kota-kota besar lainnya dilaporkan sudah menyertakan ‘salt bread’ dalam menu mereka, dan sambutan konsumen pun cukup positif.
Salah satu ciri khas ‘salt bread’ adalah penggunaan mentega yang melimpah saat proses pemanggangan, yang memberikan lapisan luar yang renyah dan sedikit gosong, serta rasa gurih asin yang berasal dari taburan garam di atasnya. Bagian dalamnya tetap empuk dan lembut, menciptakan kontras tekstur yang sangat disukai.
Meskipun asal muasalnya dari Jepang, popularitas global ‘salt bread’ saat ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana industri kuliner Korea Selatan mengadopsi dan mempopulerkannya. Hal ini menunjukkan bagaimana tren kuliner dapat melintasi batas negara melalui media sosial dan inovasi dalam penyajian.
Para pelaku usaha kuliner di Indonesia melihat potensi besar dari tren ini. Dengan sedikit penyesuaian pada resep atau penambahan topping lokal, ‘salt bread’ berpotensi menjadi salah satu pilihan jajanan favorit baru di pasar Indonesia. Perkembangan lebih lanjut yang perlu dipantau adalah bagaimana inovasi rasa dan strategi distribusi akan terus dikembangkan oleh para penjualnya di tanah air.
