Tuesday, 11 August 2026
BREAKING
Kesehatan

Misteri ‘Green Boots’: Jenazah Pendaki yang Utuh di Puncak Everest Selama Tiga Dekade

Oleh Destian August 11, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sosok ‘Green Boots’, jenazah pendaki yang teridentifikasi sebagai Tsewang Paljor, akan segera dievakuasi dari Gunung Everest setelah teronggok membeku selama kurang lebih 30 tahun. Penemuan dan keberadaan jenazah yang relatif utuh ini menimbulkan pertanyaan menarik mengenai proses pembusukan tubuh manusia di lingkungan ekstrem.

Selama tiga dekade, tubuh Paljor, yang terkenal karena mengenakan sepatu bot berwarna hijau cerah, telah menjadi penanda tragis di lereng Everest. Kini, upaya evakuasi sedang direncanakan untuk memindahkan jenazah tersebut dari lokasi terakhirnya di ketinggian 8.500 meter di atas permukaan laut. Keberadaan ‘Green Boots’ ini bukan hanya menjadi saksi bisu keganasan alam, tetapi juga memicu keingintahuan ilmiah tentang ketahanan tubuh manusia terhadap kondisi yang sangat dingin dan kering.

Proses pembusukan pada umumnya melibatkan aktivitas bakteri dan enzim yang memecah jaringan tubuh. Namun, di lingkungan Gunung Everest yang ekstrem, faktor-faktor ini sangat terhambat. Suhu yang sangat rendah di puncak Everest, yang bisa mencapai di bawah -30 derajat Celsius, secara efektif menghentikan atau memperlambat aktivitas mikroorganisme penyebab pembusukan. Beku yang konstan menciptakan kondisi mumifikasi alami.

Selain suhu dingin, kelembaban yang sangat rendah di Everest juga berperan penting. Udara yang kering menarik kelembaban dari jaringan tubuh, menyebabkan dehidrasi yang signifikan. Proses dehidrasi ini, yang dikenal sebagai desikasi, juga menghambat aktivitas bakteri dan menjaga integritas jaringan tubuh. Dengan demikian, tubuh tidak membusuk seperti yang terjadi di lingkungan yang hangat dan lembab.

Lingkungan Everest yang keras juga minim terhadap serangga atau hewan pemakan bangkai yang dapat mempercepat proses dekomposisi. Kombinasi suhu beku, udara kering, dan minimnya organisme pengurai inilah yang memungkinkan jenazah seperti ‘Green Boots’ bertahan dalam kondisi yang relatif utuh selama puluhan tahun. Penemuan dan keberadaan ‘Green Boots’ ini memberikan perspektif unik tentang bagaimana alam dapat melestarikan jejak manusia di tempat-tempat yang paling terpencil di bumi.

Bagikan: Facebook X WhatsApp