Fenomena merasakan jantung seolah berhenti sesaat lalu berdetak lebih kencang adalah kondisi yang dikenal sebagai Premature Ventricular Contraction (PVC). Kondisi ini seringkali menimbulkan kekhawatiran, namun apakah PVC selalu berbahaya? Dokter memberikan penjelasan mengenai penyebab dan dampaknya.
PVC merupakan salah satu jenis aritmia, atau gangguan irama jantung, yang terjadi ketika bilik jantung (ventrikel) berkontraksi lebih awal dari seharusnya. Kontraksi prematur ini kemudian diikuti oleh jeda kompensasi sebelum detak jantung berikutnya yang lebih kuat, menimbulkan sensasi yang dirasakan sebagai ‘jantung berhenti sesaat’.
Menurut dr. Dicky S. Ramadhan, Sp.JP(K), FAsCC, FAPS, FIMRS, seorang Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dari RS Pondok Indah, PVC dapat disebabkan oleh berbagai faktor. “PVC bisa dipicu oleh stres, kelelahan, konsumsi kafein atau alkohol, gangguan keseimbangan elektrolit, hingga penyakit jantung itu sendiri,” jelas dr. Dicky.
Dalam banyak kasus, PVC bersifat jinak dan tidak menimbulkan gejala yang signifikan. Banyak orang bahkan tidak menyadari keberadaan PVC dalam detak jantung mereka. Namun, pada beberapa individu, PVC dapat disertai dengan gejala seperti jantung berdebar kencang, pusing, sesak napas, atau nyeri dada. “Jika frekuensi PVC sangat tinggi, atau disertai gejala yang mengganggu, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter,” ujar dr. Dicky.
Diagnosis PVC biasanya dilakukan melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) atau rekam jantung. Dalam kasus tertentu, dokter mungkin merekomendasikan pemantauan EKG jangka panjang menggunakan Holter monitor untuk mendeteksi PVC yang mungkin tidak muncul saat pemeriksaan EKG standar. “Pemeriksaan penunjang lain seperti ekokardiografi atau tes stres juga bisa dilakukan untuk mengevaluasi kondisi jantung secara keseluruhan,” tambahnya.
Penanganan PVC sangat bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Untuk PVC yang tidak menimbulkan gejala dan tidak terkait dengan penyakit jantung struktural, biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus. Perubahan gaya hidup seperti mengelola stres, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, serta istirahat yang cukup seringkali sudah memadai. “Namun, jika PVC disebabkan oleh kondisi medis tertentu atau menimbulkan gejala yang mengganggu, dokter akan meresepkan obat-obatan untuk mengendalikan irama jantung,” pungkas dr. Dicky.
