Saturday, 5 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Mengatasi Kebiasaan Menggigit Kuku pada Anak: Panduan Lengkap untuk Orang Tua

Oleh Destian September 5, 2026 57 minutes lalu 0 komentar

Kebiasaan menggigit kuku, atau onikofagia, seringkali menjadi perhatian orang tua ketika melihat anak-anak mereka melakukannya. Meskipun tampak sepele, kebiasaan ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan dan sosial bagi anak. Memahami penyebab dan menerapkan strategi yang tepat adalah kunci bagi orang tua untuk membantu anak menghentikan kebiasaan ini.

Menurut para ahli, menggigit kuku pada anak bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebosanan, kecemasan, stres, hingga sekadar meniru orang lain. Dr. Arini Indriani, M.Psi., Psikolog, dalam sebuah wawancara yang dilansir oleh CNN Indonesia, menjelaskan bahwa kebiasaan ini seringkali merupakan respons bawah sadar terhadap emosi tertentu. “Bisa jadi karena anak merasa bosan, cemas, atau stres. Kadang juga mereka melakukannya tanpa sadar karena melihat orang lain,” ujarnya.

Dampak negatif dari kebiasaan menggigit kuku tidak bisa diabaikan. Dari sisi kesehatan, kuku dan area di sekitarnya merupakan sarang kuman dan bakteri. Menggigit kuku berarti memasukkan kuman-kuman tersebut ke dalam tubuh, yang berpotensi menyebabkan infeksi pada jari, sakit perut, atau bahkan masalah gigi seperti gigi menjadi aus atau renggang. Selain itu, penampilan kuku yang tidak terawat juga dapat memengaruhi kepercayaan diri anak.

Orang tua memiliki peran krusial dalam membantu anak mengatasi kebiasaan ini. Pendekatan yang paling efektif adalah dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup, serta mencari tahu akar penyebab anak menggigit kuku. Jika anak melakukannya karena bosan, ajaklah mereka bermain atau melakukan aktivitas lain yang menarik. Jika karena cemas atau stres, cobalah untuk berbicara dari hati ke hati dan bantu mereka mengidentifikasi serta mengelola emosi tersebut.

Ada beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan. Pertama, orang tua bisa secara halus mengingatkan anak setiap kali melihatnya menggigit kuku, namun tanpa memarahi atau mempermalukan. Penggunaan sarung tangan atau plester pada jari anak, terutama saat tidur atau saat anak rentan melakukan kebiasaan tersebut, juga bisa menjadi solusi sementara. Beberapa orang tua juga mencoba mengoleskan rasa pahit pada kuku anak, meskipun efektivitasnya bervariasi pada setiap anak.

Penting untuk diingat bahwa perubahan kebiasaan memerlukan waktu dan kesabaran. Memberikan pujian dan penghargaan ketika anak berhasil menahan diri untuk tidak menggigit kuku akan sangat memotivasi mereka. Hindari hukuman fisik atau verbal yang keras, karena hal tersebut justru bisa meningkatkan kecemasan anak dan memperburuk kebiasaan.

Jika kebiasaan menggigit kuku sangat parah, terus-menerus, dan disertai dengan gejala kecemasan yang signifikan, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional. Psikolog anak atau dokter anak dapat memberikan evaluasi lebih mendalam dan rekomendasi penanganan yang sesuai dengan kondisi anak.

Para ahli menyarankan agar orang tua tetap sabar dan konsisten dalam menerapkan strategi yang dipilih. Pemantauan perkembangan anak dan evaluasi berkala terhadap efektivitas metode yang digunakan akan membantu dalam penyesuaian langkah selanjutnya. Orang tua diharapkan untuk terus menjalin komunikasi terbuka dengan anak mengenai kebiasaan ini dan dampaknya, sambil memberikan dukungan positif.

Bagikan: Facebook X WhatsApp