Menjaga konsistensi jam makan bisa jadi tantangan di tengah kesibukan aktivitas harian. Namun, para ahli kesehatan menekankan betapa krusialnya kebiasaan ini untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dokter Devia Irine Putri menjelaskan bahwa keteraturan waktu makan sangat memengaruhi fungsi metabolisme dan hormon dalam tubuh.
Menurut Dokter Devia, ketika seseorang tidak teratur dalam jam makannya, tubuh akan mengalami disregulasi. “Saat kita telat makan, kadar gula darah bisa turun drastis, memicu rasa lapar berlebih, dan membuat kita cenderung memilih makanan yang tidak sehat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan dampak negatif dari pola makan yang tidak konsisten. “Keterlambatan makan dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis yang mengatur berbagai fungsi, termasuk tidur dan metabolisme. Hal ini bisa berdampak pada peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta gangguan pencernaan,” jelas Dokter Devia.
Ritme sirkadian yang terganggu juga dapat memengaruhi produksi hormon ghrelin (hormon lapar) dan leptin (hormon kenyang). Ketidakseimbangan ini, kata Dokter Devia, dapat memicu keinginan makan yang lebih sering dan sulit dikontrol. “Tubuh akan merasa terus menerus kelaparan meskipun asupan kalori sudah cukup, karena sinyal kenyang tidak bekerja optimal,” terangnya.
Dokter Devia juga menyoroti pentingnya sarapan sebagai waktu makan pertama setelah berpuasa semalaman. Melewatkan sarapan atau menundanya terlalu lama dapat memperlambat metabolisme di pagi hari. “Sarapan memberikan energi awal bagi tubuh untuk beraktivitas. Tanpa sarapan, tubuh akan cenderung menyimpan energi, yang justru bisa menghambat proses pembakaran lemak,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Dokter Devia menyarankan agar setiap orang berusaha untuk memiliki jam makan yang teratur, termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam, dengan jeda waktu yang konsisten. “Usahakan untuk makan pada waktu yang kurang lebih sama setiap harinya. Tubuh akan terbiasa dan performa metabolisme pun akan lebih baik,” tutupnya.
