Pertanyaan mengenai potensi GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) memicu serangan jantung kembali mencuat, menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Meski telah berulang kali dijelaskan oleh para ahli, simpang siur informasi terkait hubungan kedua kondisi ini terus bergulir, bahkan sempat memicu perdebatan sengit antara dokter dan warganet.
Pakar medis menegaskan bahwa GERD, yang merupakan penyakit asam lambung naik, tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung. Gejala yang seringkali tumpang tindih antara GERD dan penyakit jantung menjadi akar kebingungan tersebut. Rasa nyeri di dada, yang merupakan gejala umum serangan jantung, juga bisa dirasakan oleh penderita GERD akibat asam lambung yang naik hingga kerongkongan.
Menurut dr. Vito Damay, Sp.JP (K), F.A.S.C, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, penting untuk membedakan kedua kondisi ini. Ia menjelaskan bahwa GERD adalah masalah pada sistem pencernaan, sementara serangan jantung adalah masalah pada sistem kardiovaskular. Meski demikian, ia mengakui adanya kesamaan gejala yang bisa mengelabui.
Dalam sebuah unggahan di akun Instagramnya pada 14 Mei 2024, dr. Vito menekankan bahwa nyeri dada akibat GERD biasanya bersifat seperti terbakar (heartburn) dan seringkali disertai rasa asam di mulut. Nyeri ini juga cenderung membaik setelah minum obat antasida. Sebaliknya, nyeri dada akibat serangan jantung seringkali digambarkan sebagai rasa tertekan, seperti ditindih benda berat, dan bisa menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung. Nyeri ini tidak membaik dengan antasida dan mungkin disertai gejala lain seperti sesak napas, keringat dingin, mual, atau pusing.
Perdebatan di dunia maya sempat memanas ketika muncul narasi yang mengaitkan GERD sebagai penyebab langsung serangan jantung. Hal ini kontras dengan penjelasan medis yang menyatakan bahwa GERD bukanlah pemicu serangan jantung. Namun, dr. Vito mengingatkan bahwa kondisi GERD yang parah atau tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi kesehatan secara umum, yang secara tidak langsung dapat memberikan beban tambahan pada jantung.
Oleh karena itu, sangat disarankan bagi masyarakat untuk tidak mendiagnosis diri sendiri. Jika mengalami nyeri dada yang mengkhawatirkan, segera periksakan diri ke dokter. Diagnosis yang tepat dari profesional medis adalah kunci untuk mendapatkan penanganan yang sesuai, baik itu untuk GERD maupun kondisi jantung yang lebih serius.
