Profesor Pertanian Universitas Padjadjaran, Ir. H. Tatang Sutendi, M.P., mengungkapkan bahwa budidaya ube memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan ubi ungu. Kerumitan inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ube belum banyak tersedia di pasaran, meskipun popularitasnya sebagai bahan baku dessert terus meningkat.
Menurut Tatang Sutendi, perbedaan mendasar terletak pada kebutuhan lingkungan dan penanganan selama masa pertumbuhan. “Ube itu lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan dibandingkan ubi ungu,” jelasnya saat dihubungi pada Senin (27/5/2024). Ia menambahkan, ube memerlukan perhatian ekstra terhadap kelembaban tanah, suhu, dan paparan sinar matahari yang optimal.
Lebih lanjut, Tatang Sutendi memaparkan bahwa ube juga rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Pengendaliannya membutuhkan metode yang lebih spesifik dan terkadang lebih intensif. “Perawatan terhadap hama dan penyakitnya itu juga lebih spesifik, makanya yang membudidayakan ube itu belum terlalu banyak,” terangnya.
Berbeda dengan ubi ungu yang relatif lebih adaptif terhadap berbagai kondisi lahan dan cuaca, ube memerlukan tanah yang kaya nutrisi dan drainase yang baik. Kesalahan dalam pengelolaan kelembaban atau nutrisi dapat dengan cepat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen ube.
Tatang Sutendi menyarankan agar calon pembudidaya ube memahami betul karakteristik tanaman ini sebelum memulai. Pelatihan dan konsultasi dengan ahli pertanian, khususnya yang berpengalaman dalam budidaya tanaman umbi-umbian tropis, sangat disarankan. “Kalau mau budidaya ube, ya harus paham dulu karakteristiknya,” pungkasnya.
