Pertanyaan seputar keamanan memanaskan ulang telur yang sudah dimasak sebelumnya seringkali muncul di kalangan masyarakat. Menurut para ahli gizi, telur yang telah dimasak dan didinginkan dengan benar umumnya aman untuk dipanaskan kembali, asalkan dilakukan dengan metode yang tepat dan tidak terlalu lama. Kuncinya terletak pada penanganan pasca-memasak dan suhu pemanasan ulang.
Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), telur yang dimasak dan disimpan dalam lemari es pada suhu di bawah 4°C dalam waktu 3-4 hari masih dianggap aman untuk dikonsumsi. Namun, kualitas tekstur dan rasa telur bisa menurun seiring waktu, terutama jika terlalu sering dipanaskan ulang.
Ahli gizi dari Universitas Cornell, Dr. Catherine Brown, menjelaskan bahwa masalah utama terkait konsumsi telur sisa bukanlah pada pemanasan ulang itu sendiri, melainkan pada risiko pertumbuhan bakteri jika telur tidak ditangani dengan benar setelah dimasak. Jika telur dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama setelah matang, bakteri seperti Salmonella dapat berkembang biak.
Oleh karena itu, cara memanaskan ulang telur menjadi krusial. USDA menyarankan agar telur dipanaskan hingga suhu internal mencapai 74°C. Ini dapat dicapai dengan berbagai metode, seperti dipanaskan sebentar di wajan dengan sedikit minyak, direbus sebentar dalam air panas, atau dipanaskan dalam microwave. Penting untuk memastikan seluruh bagian telur mencapai suhu yang aman untuk membunuh potensi bakteri yang mungkin tumbuh.
CNN Indonesia pernah mengulas topik serupa pada Agustus 2026, di mana penekanan diberikan pada pentingnya pendinginan cepat setelah memasak. Telur yang sudah matang sebaiknya segera didinginkan dan disimpan di lemari es. Hindari membiarkan telur matang berada di suhu ruangan lebih dari dua jam. Jika suhu ruangan di atas 32°C, waktu toleransinya berkurang menjadi satu jam.
Para ahli juga menyarankan untuk menghindari memanaskan ulang telur lebih dari satu kali. Memanaskan ulang berulang kali dapat menurunkan kualitas nutrisi telur dan meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri. Jika telur sudah menunjukkan tanda-tanda perubahan warna yang tidak biasa, bau yang menyengat, atau tekstur yang aneh, sebaiknya segera dibuang.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Dr. Diana F. Sugiat, dalam sebuah wawancara dengan media nasional, pernah menyampaikan bahwa selain metode pemanasan, kebersihan saat memasak dan menyimpan telur juga sangat penting. Menggunakan peralatan yang bersih dan mencuci tangan sebelum dan sesudah mengolah telur dapat meminimalkan risiko kontaminasi bakteri.
Dengan mengikuti panduan penanganan dan pemanasan ulang yang aman, telur sisa tetap bisa menjadi pilihan makanan yang bergizi tanpa menimbulkan risiko kesehatan. Kuncinya adalah kehati-hatian dan pemahaman akan prinsip keamanan pangan.
