Singapura tengah menghadapi fenomena penurunan angka kelahiran yang mengkhawatirkan, dengan Tingkat Kesuburan Total (TFR) tercatat pada angka terendah 0,87. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, bahkan menarik perhatian tokoh teknologi global seperti Elon Musk yang memperingatkan adanya risiko kepunahan populasi jika tren ini terus berlanjut.
Data terbaru menunjukkan bahwa Singapura kini memiliki TFR di bawah angka 1, yang berarti rata-rata setiap wanita hanya melahirkan kurang dari satu anak. Angka ini jauh di bawah tingkat penggantian populasi, yang idealnya berada di kisaran 2,1 anak per wanita. Penurunan ini menjadi perhatian utama pemerintah dan masyarakat Singapura.
Menanggapi tren yang mengkhawatirkan ini, Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, kembali menyuarakan keprihatinannya mengenai tingkat kelahiran yang rendah di berbagai negara, termasuk Singapura. Melalui cuitannya di platform X (sebelumnya Twitter), Musk secara tegas menyatakan bahwa penurunan angka kelahiran yang ekstrem dapat mengarah pada kepunahan peradaban manusia. Ia menekankan pentingnya memiliki keturunan yang cukup untuk menjaga keberlangsungan populasi.
Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan Singapura dalam kutipan langsungnya, pandangan Musk ini relevan dengan kondisi demografis yang dihadapi negara kota tersebut. Kekhawatiran Musk mencerminkan pandangan global mengenai implikasi jangka panjang dari rendahnya angka kelahiran, yang tidak hanya berdampak pada ekonomi tetapi juga pada eksistensi suatu bangsa.
Pemerintah Singapura sendiri telah menyadari tantangan ini dan berupaya keras untuk mendorong warganya agar memiliki lebih banyak anak. Berbagai insentif dan program telah diluncurkan, namun dampaknya belum terlihat signifikan dalam membalikkan tren penurunan TFR. Fenomena ini menjadi pengingat akan kompleksitas isu demografi dan perlunya solusi inovatif serta berkelanjutan.
