Sunday, 30 August 2026
BREAKING
Lifestyle

7 Jurus Jitu Orang Tua Membangun Ikatan Kuat dengan Anak di Era Digital

Oleh Destian August 30, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Membangun hubungan yang dekat dan harmonis dengan anak menjadi kunci penting bagi perkembangan emosional dan sosial mereka. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang kerap memisahkan interaksi tatap muka, para orang tua dituntut untuk lebih proaktif dalam menciptakan kedekatan. Artikel ini mengulas tujuh cara efektif yang dapat diterapkan orang tua untuk membina hubungan erat dengan buah hati mereka.

Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Dr. Retno Listiyanti, menekankan bahwa kualitas waktu yang dihabiskan bersama anak jauh lebih berpengaruh dibandingkan kuantitasnya. “Anak-anak membutuhkan rasa ‘terlihat’ dan ‘didengar’ oleh orang tua mereka. Ini bukan hanya soal kehadiran fisik, tapi bagaimana kita benar-benar fokus pada mereka saat bersama,” ujar Dr. Retno dalam sebuah webinar parenting yang diselenggarakan oleh Yayasan Sehat Anak Bangsa pada Februari 2023.

Salah satu cara fundamental adalah dengan meluangkan waktu berkualitas. Ini bisa berarti melakukan aktivitas bersama yang disukai anak, seperti bermain, membaca buku, atau sekadar mengobrol santai di akhir pekan. Juru bicara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Budi Santoso, dalam keterangan persnya pada Maret 2023, menggarisbawahi pentingnya menciptakan momen-momen kecil yang bermakna. “Bahkan, lima belas menit percakapan sebelum tidur atau saat sarapan bisa sangat berarti untuk membangun koneksi,” jelasnya.

Mendengarkan secara aktif juga menjadi pilar penting. Orang tua perlu menunjukkan minat tulus terhadap apa yang diceritakan anak, baik itu tentang sekolah, teman-teman, maupun impian mereka. Ini berarti menahan diri untuk tidak menyela, menghakimi, atau langsung memberikan solusi. Sebaliknya, berikan respons yang menunjukkan empati dan pemahaman.

Menghargai pendapat dan perasaan anak, bahkan ketika berbeda dengan orang tua, akan menumbuhkan rasa percaya diri dan keterbukaan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi dari UNICEF Indonesia yang seringkali menekankan pentingnya mendengarkan suara anak dalam berbagai pengambilan keputusan keluarga yang relevan dengan usia mereka.

Selain itu, menciptakan lingkungan rumah yang aman dan terbuka untuk berbagi cerita tanpa rasa takut akan hukuman atau kritik berlebihan adalah esensial. Anak perlu merasa bahwa rumah adalah tempat mereka bisa menjadi diri sendiri dan masalah apapun dapat didiskusikan. Hal ini juga akan membantu mencegah anak mencari pelampiasan emosi di luar rumah, misalnya melalui interaksi daring yang belum tentu aman.

Mengakui dan merayakan keberhasilan anak, sekecil apapun itu, dapat memperkuat ikatan emosional. Apresiasi yang tulus akan membuat anak merasa dihargai dan termotivasi. Sebaliknya, saat anak menghadapi kegagalan, orang tua berperan sebagai pendukung utama yang membantu mereka bangkit kembali.

Terakhir, menjadi teladan yang baik dalam berkomunikasi dan menyelesaikan masalah adalah cara tak langsung namun sangat efektif. Anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka. Dengan menunjukkan cara berinteraksi yang sehat, orang tua secara tidak langsung mengajarkan anak bagaimana membangun hubungan yang baik di masa depan.

Langkah-langkah konkret ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi orang tua untuk terus memperkuat fondasi hubungan dengan anak di tengah kompleksitas kehidupan modern. Pemantauan terhadap perkembangan interaksi anak di dunia maya dan realitas tetap menjadi agenda penting bagi para orang tua dan pemangku kepentingan di sektor perlindungan anak.

Bagikan: Facebook X WhatsApp