Friday, 11 September 2026
BREAKING
Teknologi

Tren Foto 80-an AI: Estetika Nostalgia yang Membebani Bumi

Oleh Achmad September 11, 2026 54 minutes lalu 0 komentar

Sebuah tren menarik tengah melanda media sosial: pembuatan foto bergaya tahun 1980-an menggunakan kecerdasan buatan (AI), khususnya ChatGPT. Kemudahan akses dan hasil yang unik membuat banyak orang tertarik untuk mengabadikan momen mereka dalam nuansa retro. Namun, di balik kemudahan dan estetika nostalgia tersebut, tersembunyi dampak yang signifikan terhadap lingkungan, yakni peningkatan emisi karbon yang berkontribusi pada pemanasan global.

Fenomena ini bermula dari kemudahan penggunaan platform AI seperti ChatGPT untuk menghasilkan gambar. Pengguna cukup memberikan deskripsi singkat mengenai foto yang diinginkan, lengkap dengan gaya tahun 80-an, dan AI akan memprosesnya menjadi sebuah karya visual. Kecepatan dan kreativitas AI dalam meniru gaya visual dekade tersebut menjadi daya tarik utama yang membuat tren ini cepat menyebar.

Sayangnya, di balik kemudahan tersebut, terdapat konsumsi energi yang besar. Proses komputasi yang dibutuhkan untuk melatih dan menjalankan model AI, termasuk yang digunakan ChatGPT, sangat intensif. Data center yang menjadi tulang punggung operasional AI ini membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah masif. Sumber energi yang dominan untuk pusat data seringkali masih berasal dari bahan bakar fosil, yang secara langsung melepaskan emisi karbon dioksida ke atmosfer.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Lewis, seorang peneliti dari University of Massachusetts Amherst, menyoroti dampak lingkungan dari penggunaan AI. Ia mengungkapkan bahwa melatih satu model AI besar dapat melepaskan karbon setara dengan emisi dari lima mobil selama masa pakainya. Meskipun tren foto 80-an ini mungkin terlihat sepele bagi individu, akumulasi dari jutaan pengguna yang secara aktif menggunakan AI untuk berbagai keperluan, termasuk pembuatan konten visual, secara kolektif memberikan beban yang tidak sedikit pada planet ini.

Dampak ini bukan hanya terbatas pada proses pembuatan foto. Setiap interaksi dengan model AI, mulai dari mengajukan pertanyaan hingga menghasilkan gambar, memerlukan daya komputasi yang terus-menerus. Semakin banyak pengguna yang terlibat dalam aktivitas ini, semakin besar pula permintaan energi yang harus dipenuhi oleh pusat data. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keberlanjutan teknologi AI jika tidak diimbangi dengan penggunaan sumber energi terbarukan yang lebih luas.

Para ahli menyarankan agar kesadaran akan dampak lingkungan ini perlu ditingkatkan. Pengembang teknologi AI didorong untuk mencari solusi yang lebih efisien dalam penggunaan energi dan beralih ke sumber energi hijau. Di sisi lain, pengguna pun dapat berkontribusi dengan lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi AI, mempertimbangkan kebutuhan riil di balik setiap permintaan yang diajukan. Estetika nostalgia memang menarik, namun menjaga kelestarian bumi seharusnya menjadi prioritas utama.

Bagikan: Facebook X WhatsApp