Tuesday, 11 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Mengapa Anak Rentan Cengeng dan Penakut? Psikolog Ungkap Akar Masalah dan Solusinya

Oleh Destian August 11, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Fenomena anak yang mudah menangis (cengeng) dan memiliki rasa takut berlebihan (penakut) seringkali menjadi perhatian orang tua. Kondisi ini bukan sekadar pembawaan lahir, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor perkembangan, lingkungan, hingga pengalaman yang dialami anak. Psikolog anak menekankan pentingnya memahami akar masalah ini agar orang tua dapat memberikan dukungan yang tepat.

Menurut psikolog anak, sifat cengeng pada anak umumnya berkaitan dengan cara mereka mengekspresikan emosi. Anak-anak, terutama yang masih kecil, belum memiliki kemampuan verbal yang memadai untuk mengartikulasikan perasaan frustrasi, sedih, atau kecewa mereka. Menangis menjadi salah satu cara utama mereka untuk berkomunikasi dan mencari perhatian atau bantuan dari orang dewasa di sekitarnya. Dr. Anna Surti Ariani, M.Psi., Psikolog, pernah menjelaskan dalam berbagai kesempatan bahwa menangis adalah respons alami anak terhadap ketidaknyamanan atau kebutuhan yang belum terpenuhi.

Lebih lanjut, rasa takut yang berlebihan pada anak juga dapat disebabkan oleh berbagai stimulus eksternal maupun internal. Paparan terhadap tontonan yang menakutkan, cerita yang menyeramkan, atau bahkan pengalaman traumatis dapat memicu terbentuknya fobia atau kecemasan pada anak. Selain itu, pola asuh orang tua yang cenderung overprotektif juga dapat berkontribusi pada rasa takut anak. Ketika anak terus-menerus dicegah untuk mencoba hal baru karena dianggap berbahaya, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang ragu-ragu dan takut menghadapi tantangan.

Faktor genetik dan temperamen bawaan juga berperan dalam kecenderungan anak menjadi cengeng atau penakut. Beberapa anak memang secara alami memiliki tingkat sensitivitas emosional yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. Mereka mungkin lebih mudah terstimulasi oleh lingkungan sekitar dan bereaksi lebih kuat terhadap perubahan atau hal-hal yang dianggap mengancam. Identifikasi temperamen ini penting agar orang tua dapat menyesuaikan pendekatan pengasuhan.

Ahli perkembangan anak dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) kerap menekankan bahwa konsistensi dalam pengasuhan sangat krusial. Jika orang tua terlalu sering merespons tangisan anak dengan memberikan apa yang diinginkan anak, hal ini dapat memperkuat perilaku cengeng. Sebaliknya, mengajarkan anak cara mengelola emosi dengan tenang, seperti menarik napas dalam atau berbicara tentang perasaannya, adalah langkah penting untuk membangun kemandirian emosional.

Untuk mengatasi anak yang penakut, orang tua disarankan untuk tidak meremehkan ketakutan anak, melainkan mencoba memahami sumbernya. Memberikan penjelasan yang sederhana dan realistis mengenai objek atau situasi yang ditakuti, serta secara bertahap mengenalkan anak pada hal tersebut dalam lingkungan yang aman dan terkontrol, dapat membantu mengurangi rasa takutnya. Teknik desensitisasi bertahap ini sering direkomendasikan oleh para profesional.

Orang tua juga perlu menjadi teladan yang baik dalam mengelola emosi dan menghadapi rasa takut. Anak akan banyak belajar dari cara orang tua mereka bereaksi terhadap situasi sulit. Jika orang tua menunjukkan ketenangan dan keberanian dalam menghadapi tantangan, anak cenderung akan menirunya. Sebaliknya, jika orang tua menunjukkan kecemasan berlebihan, anak dapat menyerap ketakutan tersebut.

Jika kekhawatiran orang tua terhadap perilaku cengeng atau penakut anak terus berlanjut dan dirasa mengganggu perkembangan sosial atau akademis anak, konsultasi dengan psikolog anak atau profesional kesehatan mental anak sangat disarankan. Mereka dapat melakukan asesmen mendalam dan memberikan intervensi yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan anak.

Perkembangan selanjutnya yang perlu dipantau adalah bagaimana orang tua menerapkan strategi pengasuhan yang telah dipelajari dan melihat dampaknya pada perubahan perilaku anak dalam jangka pendek maupun panjang. Evaluasi berkala dengan profesional juga dapat dijadwalkan untuk memantau kemajuan anak.

Bagikan: Facebook X WhatsApp