Fenomena cepat lelah meski telah menjalani program olahraga yang rutin kerap membingungkan banyak individu. Alih-alih merasa lebih bugar, tubuh justru terasa semakin terkuras energinya. Kondisi ini mengindikasikan adanya masalah dalam perencanaan atau pelaksanaan latihan yang perlu segera dievaluasi.
Menurut para pakar kebugaran, kelelahan berlebih pasca-olahraga rutin bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari intensitas latihan yang tidak sesuai, kurangnya waktu pemulihan, hingga nutrisi yang tidak memadai. Dr. Anya Sharma, seorang spesialis kedokteran olahraga, menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan Healthline bahwa tubuh membutuhkan keseimbangan antara stres latihan dan pemulihan untuk dapat beradaptasi dan menjadi lebih kuat.
Salah satu penyebab umum adalah ‘overtraining syndrome’ atau sindrom latihan berlebih. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk pulih dari tekanan fisik yang diberikan oleh latihan. Gejalanya tidak hanya kelelahan fisik, tetapi juga bisa meliputi penurunan performa, gangguan tidur, perubahan suasana hati, dan peningkatan risiko cedera. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduannya tentang aktivitas fisik merekomendasikan keseimbangan antara latihan intensitas sedang selama minimal 150 menit per minggu atau latihan intensitas tinggi selama minimal 75 menit per minggu, namun ini hanyalah rekomendasi umum yang perlu disesuaikan.
Evaluasi program latihan menjadi kunci utama untuk mengatasi masalah ini. Hal ini mencakup peninjauan kembali frekuensi, intensitas, durasi, dan jenis latihan yang dijalani. Misalnya, seseorang yang terbiasa melakukan latihan kardio intensitas tinggi setiap hari tanpa jeda pemulihan yang cukup, kemungkinan besar akan mengalami kelelahan kronis. Ahli fisiologi olahraga, Ben Carpenter, dalam sebuah artikel di Men’s Health, menekankan pentingnya memasukkan hari-hari istirahat aktif atau pemulihan total dalam jadwal latihan mingguan.
Selain itu, nutrisi dan hidrasi memegang peranan krusial dalam proses pemulihan dan energi. Kekurangan asupan karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama atau defisiensi protein untuk perbaikan otot dapat memperparah rasa lelah. Seorang ahli gizi olahraga, Sarah Henley, menyarankan agar atlet atau individu yang aktif secara fisik memastikan konsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya akan vitamin dan mineral, serta minum air yang cukup sebelum, selama, dan setelah berolahraga.
Kurang tidur juga seringkali menjadi faktor yang terabaikan. Kualitas dan kuantitas tidur yang buruk dapat menghambat proses regenerasi sel dan pemulihan otot, sehingga rasa lelah semakin dirasakan. National Sleep Foundation merekomendasikan orang dewasa untuk tidur selama 7-9 jam per malam untuk kesehatan optimal.
Untuk mencegah dan mengatasi kelelahan saat berolahraga rutin, disarankan untuk secara berkala berkonsultasi dengan pelatih profesional atau ahli kebugaran. Mereka dapat membantu mendesain program latihan yang personal, mempertimbangkan kondisi fisik, tujuan, serta kemampuan individu. Penyesuaian program secara berkala berdasarkan respons tubuh juga merupakan langkah bijak.
Langkah konkret selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana para profesional kebugaran akan terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mendengarkan sinyal tubuh dan melakukan evaluasi program latihan secara berkala untuk mencapai hasil yang optimal dan menjaga kesehatan jangka panjang.
