Meskipun tengah menjadi primadona di dunia kuliner sebagai hidangan penutup favorit, ube atau ubi ungu segar sulit ditemukan di pasaran Indonesia. Kebanyakan produk olahan ube yang beredar hanya tersedia dalam bentuk bubuk atau turunan lainnya, meninggalkan pertanyaan mengapa ubi ungu segar jarang tersaji.
Tren ube telah merajai berbagai platform media sosial dan kafe-kafe kekinian. Keunikan warnanya yang ungu pekat dan rasanya yang manis legit dengan sedikit nuansa gurih membuatnya digemari banyak orang. Namun, di balik kepopulerannya, tersembunyi kendala pasokan ube dalam bentuk aslinya.
Salah satu alasan utama kelangkaan ube segar adalah faktor geografis dan iklim. Ube, dengan nama ilmiah *Dioscorea alata*, sebenarnya berasal dari Asia Tenggara, namun varietas yang paling populer dan sering diidentikkan dengan tren ube saat ini, yang memiliki tekstur dan rasa khas, lebih banyak tumbuh subur di Filipina. Kondisi tanah dan iklim di negara kepulauan tersebut dinilai sangat ideal untuk budidaya ube berkualitas tinggi.
βKualitas ube yang kita kenal di tren makanan saat ini itu spesifik. Ube dari Filipina punya tekstur yang lebih lembut dan rasa manis yang lebih intens dibandingkan ubi ungu lokal kita,β ujar seorang ahli kuliner yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa meskipun Indonesia memiliki berbagai jenis ubi ungu lokal, karakteristiknya mungkin berbeda dan belum tentu sesuai dengan ekspektasi pasar yang terbentuk oleh produk-produk ube Filipina.
Selain itu, proses pengadaan dan distribusi ube segar dari negara asalnya ke Indonesia juga menghadapi tantangan tersendiri. Biaya impor, regulasi karantina, dan masa simpan produk segar menjadi pertimbangan penting yang dapat menaikkan harga jual secara signifikan. Hal ini membuat produsen cenderung memilih bentuk olahan seperti bubuk ube beku (frozen ube powder) atau pasta ube yang lebih stabil, mudah disimpan, dan diangkut tanpa mengurangi kualitas rasa dan warna.
Bubuk ube ini kemudian menjadi bahan baku utama bagi para pelaku usaha kuliner di Indonesia untuk menciptakan berbagai kreasi dessert, mulai dari es krim, kue, roti, hingga minuman. Dengan menggunakan bubuk, mereka dapat memastikan konsistensi rasa dan warna pada setiap produk yang dihasilkan, sekaligus mengatasi kendala ketersediaan ube segar.
Meskipun demikian, para pecinta kuliner berharap suatu saat nanti ube segar utuh dapat lebih mudah diakses di Indonesia. Hal ini tidak hanya akan memberikan pilihan yang lebih otentik bagi penikmat ube, tetapi juga berpotensi mendorong budidaya ube berkualitas di dalam negeri jika ada permintaan pasar yang memadai dan dukungan dari pemerintah.
