Mitos bahwa karies atau gigi berlubang pada anak sepenuhnya disebabkan oleh faktor genetik dibantah oleh para dokter gigi. Menurut penjelasan para ahli, meskipun faktor keturunan dapat berperan, kebiasaan dan lingkungan menjadi penentu utama munculnya masalah gigi berlubang pada anak.
Dr. drg. R. M. Sri Hananto, Sp.KGA(K) dari Departemen Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI), menegaskan bahwa genetika bukanlah satu-satunya penyebab karies. Ia menjelaskan bahwa ada interaksi kompleks antara bakteri dalam mulut, pola makan, kebersihan gigi, dan faktor genetik yang menentukan risiko anak terkena karies.
βGenetik memang bisa berpengaruh, tapi bukan berarti mutlak. Faktor utama yang paling dominan adalah pola makan yang tinggi gula, kebersihan mulut yang kurang, serta bakteri kariogenik yang ada di dalam rongga mulut,β ujar Dr. Sri Hananto dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh FKG UI beberapa waktu lalu. Pernyataan ini selaras dengan pandangan para profesional kesehatan gigi yang menekankan pentingnya pencegahan melalui edukasi dan praktik kesehatan yang baik.
Bakteri seperti *Streptococcus mutans* dan *Lactobacillus* diketahui berperan besar dalam proses pembentukan karies. Bakteri ini mengonsumsi gula dari makanan dan minuman yang dikonsumsi anak, kemudian menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan email gigi. Jika kebersihan mulut tidak terjaga, asam ini akan terus menerus menyerang gigi, menyebabkan lubang.
Pola makan yang sering mengonsumsi makanan dan minuman manis, terutama di antara waktu makan, memberikan ‘bahan bakar’ yang cukup bagi bakteri tersebut. Kebiasaan ini, ditambah dengan menyikat gigi yang tidak efektif atau jarang, menciptakan lingkungan ideal bagi berkembangnya karies. Para dokter gigi seringkali merekomendasikan pembatasan konsumsi gula dan menjaga jadwal menyikat gigi dua kali sehari, terutama sebelum tidur.
Faktor lingkungan lain yang juga berpengaruh adalah paparan fluorida. Fluorida, yang banyak ditemukan dalam pasta gigi dan air minum di beberapa wilayah, diketahui dapat memperkuat email gigi dan membuatnya lebih tahan terhadap serangan asam. Kurangnya paparan fluorida atau penggunaan produk yang tidak mengandung fluorida dapat meningkatkan risiko karies.
Meskipun demikian, bukan berarti faktor genetik diabaikan sepenuhnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa komposisi air liur, struktur email gigi, serta respons imun terhadap bakteri dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Namun, hal ini lebih sering dikategorikan sebagai faktor yang memodifikasi risiko, bukan sebagai penyebab tunggal.
Oleh karena itu, para orang tua diingatkan untuk tidak berpuas diri dengan asumsi bahwa anak mereka kebal dari karies hanya karena riwayat keluarga yang baik. Pemeriksaan rutin ke dokter gigi sejak dini, edukasi mengenai pola makan sehat, dan praktik kebersihan mulut yang baik adalah kunci utama dalam mencegah dan mengendalikan karies pada anak. Peran dokter gigi anak (pedodontis) sangat penting dalam memberikan panduan yang tepat bagi orang tua.
Selanjutnya, berbagai organisasi kesehatan gigi, termasuk Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan World Dental Federation (FDI), terus mengkampanyekan pentingnya kesehatan gigi sejak usia dini melalui program-program penyuluhan dan pencegahan. Fokus utama tetap pada intervensi perilaku dan lingkungan yang terbukti efektif mengurangi prevalensi karies.
