Suara dentuman keras yang terdengar di wilayah Bandung dan sekitarnya pada Selasa (12/4) lalu diduga kuat berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Fenomena ini memicu rasa penasaran masyarakat, mengingat jarak antara lokasi kejadian dan pusat erupsi yang cukup jauh, mencapai ratusan kilometer.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, memberikan penjelasan ilmiah mengenai bagaimana gelombang suara dari letusan gunung berapi bisa merambat sejauh itu. Menurutnya, ada beberapa faktor yang memengaruhi perambatan suara, terutama dalam skala besar seperti yang terjadi kali ini.
Hendra Gunawan menjelaskan bahwa gelombang suara yang dihasilkan dari erupsi Anak Krakatau memiliki energi yang sangat besar. “Energi suara dari letusan itu kan sangat besar, jadi dia bisa merambat jauh,” ujar Hendra Gunawan kepada wartawan pada Kamis (14/4).
Selain energi yang kuat, kondisi atmosfer saat itu juga turut berperan. Hendra Gunawan merinci, “Gelombang suara ini bisa merambat jauh jika ada kondisi atmosfer yang mendukung, seperti angin dan suhu udara yang memungkinkan gelombang suara untuk terpantulkan kembali ke bumi.” Fenomena ini dikenal sebagai anomali akustik, di mana gelombang suara dapat membelok dan merambat lebih jauh dari biasanya.
Lebih lanjut, ia membandingkan fenomena ini dengan suara petir yang terkadang juga bisa terdengar dari jarak yang cukup jauh. “Seperti halnya suara petir, kalau energinya besar dan kondisi atmosfernya mendukung, bisa terdengar sampai ratusan kilometer,” tambahnya.
PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau secara intensif. Hingga Kamis (14/4), gunung berapi yang berlokasi di Selat Sunda itu tercatat mengalami peningkatan aktivitas. Berdasarkan data PVMBG, pada hari Rabu (13/4) pukul 00:00 hingga 24:00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami 1 kali letusan dengan tinggi kolom abu 300 meter di atas puncak.
Bahkan, pada Kamis (14/4) pukul 00:00 hingga 06:00 WIB, tercatat 10 kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm dan lama gempa 16-73 detik. Tinggi kolom abu pada periode ini mencapai 500 meter di atas puncak. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
