Wednesday, 2 September 2026
BREAKING
Ekonomi

Belgia Tolak Sita Aset Rusia Senilai Rp5 Ribu Triliun, Khawatir Picu Eskalasi Perang

Oleh Ishak September 2, 2026 50 minutes lalu 0 komentar

Belgia menyatakan penolakan terhadap upaya Uni Eropa untuk menyita aset Rusia senilai lebih dari 300 miliar euro, yang dibekukan pasca-invasi ke Ukraina. Langkah ini, yang didorong oleh beberapa negara anggota UE, dikhawatirkan dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas dan berdampak negatif pada stabilitas ekonomi global. Penolakan Belgia ini menyoroti perpecahan di internal Uni Eropa terkait cara penanganan aset negara yang berseteru.

Usulan untuk menggunakan bunga dari aset beku Rusia guna mendanai bantuan untuk Ukraina telah menjadi perdebatan sengit di kalangan negara-negara anggota Uni Eropa. Sementara sebagian besar negara, termasuk negara-negara Baltik dan Polandia, mendukung penuh langkah tersebut sebagai bentuk tekanan ekonomi terhadap Moskow, Belgia justru menyuarakan keprihatinan mendalam.

Pemerintah Belgia, seperti dilaporkan oleh berbagai media internasional, berargumen bahwa penyitaan aset secara langsung dapat melanggar hukum internasional dan menciptakan preseden berbahaya. Kekhawatiran utama adalah potensi balasan dari Rusia yang dapat membahayakan aset negara-negara Eropa lainnya yang berada di Rusia, serta memicu ketidakstabilan di pasar keuangan global.

Angka fantastis Rp5 ribu triliun (sekitar 300 miliar euro) merujuk pada total aset cadangan Bank Sentral Rusia yang dibekukan oleh negara-negara Barat, termasuk negara-negara Uni Eropa, sebagai respons atas agresi militer ke Ukraina. Aset ini ditempatkan di berbagai lembaga keuangan di luar Rusia.

Duta Besar Rusia untuk Uni Eropa, Vladimir Chizhov, sebelumnya telah memperingatkan bahwa penyitaan aset tersebut akan menjadi “aksi pencurian” dan dapat memicu respons keras dari Moskow. Pernyataan ini menambah kekhawatiran yang disampaikan oleh Belgia mengenai potensi eskalasi balasan.

Perdebatan ini juga melibatkan aspek hukum dan teknis. Sebagian negara berpendapat bahwa menggunakan bunga dari aset yang dibekukan berbeda dengan menyita aset itu sendiri. Namun, Rusia menganggap kedua tindakan tersebut memiliki konsekuensi yang sama berbahayanya.

Posisi Belgia yang berbeda dari mayoritas anggota UE ini menunjukkan adanya tantangan dalam mencapai konsensus di blok tersebut mengenai kebijakan luar negeri dan keamanan, terutama terkait sanksi dan penanganan aset negara yang sedang berkonflik. Hal ini juga dapat mempengaruhi efektivitas sanksi yang diterapkan oleh UE terhadap Rusia.

Meskipun demikian, upaya untuk mencari solusi agar Ukraina tetap mendapatkan dukungan finansial terus dilakukan. Diskusi internal UE kemungkinan akan terus berlanjut untuk mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh semua pihak, sambil meminimalkan risiko hukum dan geopolitik.

Bagikan: Facebook X WhatsApp