Tuesday, 1 September 2026
BREAKING
Ekonomi

Bebani Konsumen, Harga Daging Ayam dan Sapi Meroket, Pedagang Ungkap Biang Keroknya

Oleh Ishak September 1, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Harga daging ayam dan sapi di pasar tradisional dilaporkan mengalami kenaikan signifikan, membuat konsumen menjerit. Kenaikan ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, sementara para pedagang pasar mengeluhkan omzet yang menurun akibat lesunya permintaan. Pemicu utama lonjakan harga ini disebut-sebut berasal dari tingginya biaya pakan dan rantai pasok yang belum optimal.

Pantauan di sejumlah pasar tradisional di berbagai daerah menunjukkan bahwa harga daging ayam ras yang sebelumnya berkisar Rp30.000-Rp35.000 per kilogram kini bisa mencapai Rp40.000-Rp45.000. Sementara itu, harga daging sapi, yang memang cenderung lebih mahal, juga mengalami lonjakan dari kisaran Rp130.000-Rp140.000 menjadi Rp150.000-Rp160.000 per kilogram, bahkan di beberapa tempat bisa lebih tinggi.

Seorang pedagang ayam di Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini sudah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. “Bukan hanya sekarang, sudah lumayan lama ini naik terus. Apalagi kalau mendekati hari-hari besar, pasti langsung melonjak,” ujarnya.

Menurut para pedagang, salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah tingginya biaya pakan ternak. Harga jagung, kedelai, dan bahan baku pakan lainnya terus merangkak naik, sehingga biaya produksi peternak pun ikut terbebani. Hal ini mau tidak mau berdampak pada harga jual di tingkat peternak yang kemudian diteruskan hingga ke pasar.

Selain biaya pakan, rantai distribusi yang panjang dan kurang efisien juga disebut menjadi salah satu penyebab harga tidak stabil. Mulai dari peternak, agen, pemotongan, hingga pedagang di pasar, setiap mata rantai menambah biaya operasional yang akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir. Terkadang, ketersediaan pasokan yang tidak merata juga memicu spekulasi harga di tingkat tengkulak.

Dampak kenaikan harga ini sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama rumah tangga dengan pendapatan menengah ke bawah. Banyak konsumen yang terpaksa mengurangi pembelian daging ayam dan sapi, beralih ke sumber protein hewani yang lebih terjangkau seperti telur atau ikan. Ada pula yang terpaksa mengurangi frekuensi konsumsi daging.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian seringkali berupaya menstabilkan harga pangan, termasuk daging. Berbagai upaya seperti operasi pasar, subsidi pakan, hingga relaksasi impor terkadang dilakukan. Namun, efektivitas jangka panjang dari langkah-langkah tersebut masih menjadi tantangan tersendiri.

Para pedagang berharap agar pemerintah dapat segera mencari solusi yang tepat untuk menstabilkan harga daging. Kenaikan harga yang berlanjut dikhawatirkan akan semakin memukul daya beli masyarakat dan berdampak pada kelangsungan usaha para pedagang kecil di pasar tradisional.

Situasi ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan yang stabil dan harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Upaya perbaikan pada rantai pasok dan pengelolaan biaya produksi ternak menjadi krusial untuk diatasi agar gejolak harga pangan serupa tidak terus berulang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp