Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi baru-baru ini mendadak memicu kenaikan harga masker secara drastis di sejumlah wilayah. Fenomena ini menimbulkan keluhan dari masyarakat yang merasakan lonjakan harga mencapai sepuluh kali lipat dari harga normal.
Lonjakan harga masker ini menjadi sorotan utama pascaerupsi Gunung Anak Krakatau. Debu vulkanik yang menyelimuti area sekitar memaksa sebagian warga untuk mencari perlindungan pernapasan, yang berujung pada peningkatan permintaan masker. Namun, situasi ini dimanfaatkan oleh oknum pedagang untuk menaikkan harga secara signifikan.
Banyak warga yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap praktik kenaikan harga tersebut. Salah seorang warga, sebut saja Ibu Ani, mengaku terkejut melihat harga masker yang biasanya hanya dibanderol Rp 5.000 per kotak, kini melonjak hingga Rp 50.000. “Jangankan yang mahal, yang biasa saja sekarang susah dicari dan harganya tidak masuk akal,” keluhnya.
Meskipun demikian, tidak semua pedagang ikut serta dalam permainan harga ini. Masih ada beberapa pedagang yang bersikap kooperatif dan tetap menjual masker dengan harga normal. Pak Budi, seorang pedagang di Pasar Tradisional XYZ, menyatakan bahwa ia memilih untuk tidak menaikkan harga demi membantu masyarakat yang membutuhkan. “Saya tahu ini situasi sulit, jadi tidak etis kalau kami ikut menaikkan harga. Rezeki sudah ada yang mengatur,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya dua sisi mata uang dalam respons pasar terhadap bencana alam. Di satu sisi, bencana memunculkan praktik spekulasi yang merugikan konsumen, namun di sisi lain, masih ada pelaku usaha yang mengedepankan empati dan tanggung jawab sosial. Pihak berwenang diharapkan dapat segera meninjau dan menindaklanjuti praktik kenaikan harga masker yang dinilai tidak wajar ini demi menjaga stabilitas harga dan meringankan beban masyarakat di tengah situasi darurat.
