Aktivitas penerbangan di delapan bandara di wilayah Banten dan sekitarnya lumpuh total pada hari ini akibat dampak sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. Penutupan bandara ini diberlakukan hingga pukul 23.59 WIB malam ini demi keselamatan penerbangan, menyusul peringatan dari otoritas penerbangan terkait.
Keputusan penutupan bandara ini diambil berdasarkan laporan dan analisis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai sebaran abu vulkanik yang berpotensi membahayakan pesawat terbang.
Menurut informasi yang dihimpun, delapan bandara yang terdampak penutupan operasional antara lain Bandara Raden Inten II di Lampung, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Bandara Supadio di Pontianak, Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, dan Bandara Pangkal Pinang. Keterlambatan dan pembatalan penerbangan pun tak terhindarkan.
Gunung Anak Krakatau dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa waktu terakhir, memuntahkan abu vulkanik yang terbawa angin hingga ke wilayah yang cukup luas. Kolom abu yang dikeluarkan oleh gunung api ini teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan ketinggian mencapai ribuan meter di atas puncak kawah.
Dampak sebaran abu vulkanik terhadap dunia penerbangan sangatlah serius. Partikel abu halus dapat merusak mesin pesawat, mengganggu pandangan pilot, serta menyebabkan korosi pada bagian-bagian pesawat yang terbuat dari logam. Oleh karena itu, penutupan bandara merupakan langkah pencegahan yang krusial.
Pihak pengelola bandara dan maskapai penerbangan telah berkoordinasi untuk menginformasikan kepada penumpang mengenai kondisi terkini. Penumpang yang terdampak penutupan diminta untuk terus memantau perkembangan informasi dari maskapai masing-masing terkait jadwal ulang penerbangan atau opsi lain yang tersedia.
Otoritas penerbangan, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkaniknya. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk menentukan kapan bandara-bandara tersebut dapat kembali beroperasi normal.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan secara intensif untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan serta masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
