Friday, 11 September 2026
BREAKING
Berita

Waspadai ‘Toxic Positivity’: Ketika Nasihat Berlebihan Hambat Proses Dukungan Emosional

Oleh Ishak September 11, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Fenomena ‘toxic positivity’ semakin kerap ditemui dalam interaksi sosial, terutama saat seseorang membutuhkan dukungan emosional. Alih-alih memberikan ruang bagi individu untuk merasakan dan memproses perasaannya, sebagian orang justru cenderung buru-buru memberikan nasihat dan solusi, yang justru bisa berujung pada penolakan emosi negatif.

‘Toxic positivity’ adalah kecenderungan untuk bersikeras pada pandangan positif, bahkan ketika dihadapkan pada situasi sulit atau emosi negatif. Ini bukan tentang optimisme yang sehat, melainkan tentang penolakan terhadap realitas emosional yang kompleks. Dalam konteks pertemanan, ini seringkali termanifestasi ketika seseorang datang untuk bercerita, namun respons yang diterima justru terasa meremehkan atau memaksa untuk segera ‘bahagia’.

Salah satu ciri utama dari ‘toxic positivity’ adalah respons yang terlalu cepat memberikan nasihat atau solusi. Ketika seorang teman curhat tentang masalahnya, alih-alih mendengarkan dengan empati dan memvalidasi perasaannya, individu yang menerapkan ‘toxic positivity’ akan langsung berkata, “Sudahlah, jangan dipikirkan,” atau “Kamu harusnya bersyukur saja.” Pesan yang tersirat adalah bahwa kesedihan, kekecewaan, atau kemarahan adalah sesuatu yang harus segera diatasi dan dihindari.

Dampak dari perilaku ini bisa sangat merugikan bagi orang yang sedang membutuhkan dukungan. Alih-alih merasa didengarkan dan dipahami, mereka justru merasa perasaannya tidak valid. Hal ini dapat menimbulkan rasa bersalah karena merasa ‘tidak seharusnya’ merasakan emosi negatif, serta menghambat proses penyembuhan emosional yang sehat. Individu tersebut mungkin akan enggan untuk kembali berbagi cerita di kemudian hari karena takut dihakimi atau dinasihati secara berlebihan.

Para ahli psikologi menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif dan memberikan ruang bagi ekspresi emosi. Validasi emosi, yaitu mengakui dan menerima perasaan seseorang tanpa menghakimi, adalah langkah awal yang krusial dalam memberikan dukungan. Frasa seperti “Aku mengerti kamu pasti merasa sedih/kecewa/marah saat ini” jauh lebih efektif daripada “Semangat ya, jangan sedih terus!”.

Penting untuk membedakan antara optimisme yang membangun dan ‘toxic positivity’. Optimisme yang sehat mengakui adanya kesulitan namun tetap melihat potensi solusi dan kekuatan diri. Sementara itu, ‘toxic positivity’ mengabaikan atau menekan emosi negatif, menciptakan ilusi bahwa segalanya baik-baik saja padahal tidak. Hal ini bisa berakar dari ketidaknyamanan diri sendiri terhadap emosi negatif, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Dalam lingkungan pertemanan, membangun komunikasi yang sehat berarti menciptakan ruang aman bagi setiap individu untuk mengekspresikan diri. Ini mencakup kesabaran untuk mendengarkan tanpa segera menghakimi atau memberikan solusi yang belum tentu dibutuhkan. Memberikan kesempatan bagi seseorang untuk ‘merasa’ terlebih dahulu sebelum ‘bertindak’ atau ‘berpikir positif’ adalah bentuk dukungan yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, kesadaran akan ciri-ciri ‘toxic positivity’ menjadi penting agar kita dapat memberikan dukungan yang lebih efektif dan empatik kepada orang-orang di sekitar kita. Memahami bahwa setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam memproses emosi adalah kunci utama dalam menjaga hubungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung.

Bagikan: Facebook X WhatsApp