Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memberikan klarifikasi mengenai jenis masker yang paling efektif untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik. Penegasan ini muncul menyusul beredarnya informasi yang menyarankan untuk membasahi masker sebagai cara menangkal abu vulkanik, yang dinilai kurang tepat oleh Kemenkes.
Menurut Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril, masker yang paling direkomendasikan, selain masker N95 yang memang sudah terbukti ampuh, adalah masker kain dan masker bedah. Beliau menyampaikan bahwa kedua jenis masker ini memiliki kemampuan filtrasi yang memadai untuk menangkal partikel abu vulkanik yang berukuran besar.
Syahril menekankan, “Jika tidak ada masker N95, maka masker kain atau masker bedah itu sudah bisa digunakan.” Pernyataan ini secara tegas menolak anggapan bahwa membasahi masker adalah solusi yang lebih efektif. Ia menambahkan, “Bukan dibasahi. Justru masker itu harus kering.” Pembasahan masker justru dikhawatirkan dapat mengubah struktur serat masker, yang berpotensi mengurangi efektivitas penyaringannya.
Lebih lanjut, Kemenkes menjelaskan bahwa abu vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi gunung berapi memiliki ukuran partikel yang cenderung lebih kasar dibandingkan dengan virus atau bakteri yang biasa ditangkal oleh masker bedah atau kain dalam konteks penularan penyakit. Oleh karena itu, masker kain yang memiliki lapisan lebih tebal atau masker bedah standar sudah cukup untuk menghalangi masuknya abu vulkanik ke saluran pernapasan.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari badan mitigasi bencana dan otoritas kesehatan setempat. Informasi mengenai penggunaan masker yang tepat menjadi krusial, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah terdampak erupsi gunung berapi. Prioritaskan penggunaan masker yang kering dan pastikan masker menutupi hidung serta mulut dengan rapat untuk mendapatkan perlindungan maksimal.
