Maskapai Singapore Airlines (SIA) dan Scoot mengumumkan pembatalan puluhan penerbangan antara Jakarta dan Singapura selama dua hari akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Keputusan ini berdampak pada ribuan penumpang yang rencananya melakukan perjalanan pada periode tersebut.
Pembatalan penerbangan ini terjadi pada tanggal 7 dan 8 September 2026. Menurut informasi yang dirilis oleh kedua maskapai, total ada 23 penerbangan yang dibatalkan untuk rute Jakarta-Singapura PP. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan operasional penerbangan akibat debu vulkanik.
Pihak Singapore Airlines dan Scoot menyatakan bahwa pembatalan dilakukan demi keselamatan penumpang dan kru. Debu vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi gunung berapi diketahui dapat membahayakan mesin pesawat dan mengganggu visibilitas pilot. Maskapai tersebut telah berupaya menghubungi penumpang yang terdampak untuk memberikan opsi penjadwalan ulang atau pengembalian dana.
Erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri tercatat terjadi pada awal September 2026. Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan peringatan terkait aktivitas gunung api tersebut, termasuk potensi peningkatan intensitas erupsi dan penyebaran abu vulkanik. Status aktivitas gunung api ini terus dipantau secara ketat oleh lembaga terkait.
Dampak dari pembatalan penerbangan ini tidak hanya dirasakan oleh penumpang dari Indonesia, tetapi juga penumpang dari Singapura yang berencana melakukan perjalanan ke Jakarta. Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Changi Singapura menjadi titik krusial dalam rute penerbangan yang dibatalkan.
Menyikapi situasi ini, penumpang yang terdampak disarankan untuk terus memantau informasi terbaru dari maskapai. Opsi yang biasanya diberikan meliputi penjadwalan ulang penerbangan pada tanggal berikutnya setelah kondisi dinyatakan aman, atau mengajukan permohonan pengembalian dana (refund) atas tiket yang telah dibeli.
Meskipun erupsi Anak Krakatau merupakan fenomena alam, dampaknya terhadap sektor transportasi udara menunjukkan pentingnya koordinasi dan respons cepat dari maskapai penerbangan serta otoritas penerbangan. Pemantauan aktivitas gunung berapi dan penyebaran debu vulkanik menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan penerbangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pengumuman resmi lebih lanjut mengenai kelanjutan pembatalan atau normalisasi jadwal penerbangan. Pihak maskapai menyatakan akan terus berkoordinasi dengan otoritas penerbangan dan lembaga meteorologi untuk memantau perkembangan situasi dan mengambil keputusan yang tepat demi keselamatan.
