Wednesday, 2 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Mengenal 4 Gaya Kelekatan (Attachment Style) dan Ciri-cirinya pada Anak dan Dewasa

Oleh Destian September 2, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Memahami gaya kelekatan atau attachment style dapat memberikan wawasan mendalam mengenai pola hubungan seseorang sejak dini hingga dewasa. Gaya kelekatan, yang terbentuk dari interaksi awal dengan pengasuh, memengaruhi cara individu menjalin kedekatan, mengelola emosi, dan bereaksi terhadap stres dalam hubungan. Terdapat empat tipe utama gaya kelekatan yang diidentifikasi dalam psikologi perkembangan: aman, cemas-ambivalen, menghindar-menolak, dan menghindar-menghindar.

Gaya kelekatan pertama dan yang paling ideal adalah gaya kelekatan aman (secure attachment). Menurut berbagai studi psikologi, anak dengan gaya kelekatan aman cenderung merasa nyaman mengeksplorasi lingkungan ketika pengasuh hadir. Mereka menunjukkan kesedihan ketika ditinggal, namun dapat dengan cepat ditenangkan dan kembali berinteraksi saat pengasuh kembali. Di usia dewasa, individu dengan gaya kelekatan aman umumnya memiliki hubungan yang stabil, mampu mempercayai pasangan, serta terbuka dalam mengkomunikasikan kebutuhan dan emosi mereka.

Selanjutnya adalah gaya kelekatan cemas-ambivalen (anxious-ambivalent attachment). Anak dengan gaya ini seringkali menunjukkan kecemasan berlebihan terhadap kehadiran pengasuh, merasa tidak aman bahkan ketika pengasuh ada. Mereka bisa menjadi sangat pasif atau sangat aktif dalam mencari perhatian. Dalam hubungan romantis, orang dewasa dengan tipe ini seringkali merasa cemas tentang komitmen pasangan, membutuhkan kepastian berulang kali, dan cenderung posesif.

Tipe ketiga adalah gaya kelekatan menghindar-menolak (avoidant-dismissive attachment). Anak yang memiliki gaya ini cenderung menunjukkan kemandirian berlebihan sejak dini, mengabaikan upaya pengasuh untuk memberikan kenyamanan atau perhatian. Mereka mungkin terlihat tidak terpengaruh saat pengasuh pergi atau kembali. Orang dewasa dengan gaya kelekatan ini seringkali enggan untuk terlalu dekat secara emosional, menghargai kemandirian di atas segalanya, dan mungkin kesulitan mengekspresikan perasaan atau menerima dukungan dari orang lain.

Terakhir adalah gaya kelekatan menghindar-menghindar (avoidant-fearful attachment), yang juga dikenal sebagai gaya kelekatan tidak teratur (disorganized attachment). Tipe ini merupakan kombinasi dari kecemasan dan penghindaran. Anak dengan gaya ini menunjukkan perilaku yang membingungkan dan kontradiktif, seperti mendekat lalu menjauh dari pengasuh. Mereka mungkin tampak takut pada sumber kenyamanan. Individu dewasa dengan gaya ini seringkali menginginkan kedekatan namun juga takut padanya, membuat hubungan mereka cenderung tidak stabil dan penuh konflik internal.

Perlu dicatat bahwa gaya kelekatan bukanlah sesuatu yang kaku dan dapat berubah seiring waktu melalui pengalaman hubungan yang positif dan terapi. Pemahaman terhadap pola kelekatan diri sendiri maupun orang lain dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan memuaskan.

Pakar psikologi merekomendasikan pentingnya mengenali pola kelekatan sejak dini. Untuk itu, program-program intervensi dini yang berfokus pada penguatan hubungan orang tua-anak terus dikembangkan. Pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dalam beberapa kesempatan juga menekankan pentingnya edukasi bagi orang tua mengenai pola asuh yang responsif terhadap kebutuhan emosional anak.

Bagikan: Facebook X WhatsApp