Para ilmuwan menemukan fakta menarik mengenai durasi satu hari di Bumi pada masa dinosaurus. Berbeda dengan 24 jam yang kita kenal sekarang, satu hari di era tersebut diperkirakan jauh lebih singkat. Hal ini disebabkan oleh perputaran Bumi yang lebih cepat di masa lampau.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience mengungkap bahwa satu hari di zaman dinosaurus, sekitar 70 juta tahun lalu, hanya berlangsung sekitar 23 jam. Perbedaan ini terdeteksi melalui analisis isotop oksigen pada fosil kerang purba yang ditemukan di situs penggalian di Wyoming, Amerika Serikat. Fosil-fosil ini menyimpan catatan geologis harian dari periode Cretaceous.
Dr. Samuel Webb, seorang peneliti dari University of Southern California dan salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa pertumbuhan cincin harian pada cangkang kerang tersebut bertindak seperti ‘jam’ alami. “Cincin-cincin ini adalah catatan pertumbuhan harian, mirip dengan cincin tahunan pada pohon,” ujar Dr. Webb. Dengan menganalisis pola pertumbuhan dan jarak antar cincin, para peneliti dapat memperkirakan kecepatan rotasi Bumi pada masa fosil tersebut hidup.
Penemuan ini mengkonfirmasi teori yang sudah ada sebelumnya mengenai perlambatan rotasi Bumi seiring waktu. Gaya pasang surut yang disebabkan oleh interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan secara perlahan memperlambat putaran Bumi. “Setiap abad, panjang hari di Bumi bertambah sekitar 1,8 milidetik,” kata Dr. Webb. Perubahan yang tampak kecil ini, jika diakumulasikan selama jutaan tahun, menghasilkan perbedaan durasi hari yang signifikan.
Selain memberikan wawasan tentang sejarah geologis Bumi, penelitian ini juga menyoroti bagaimana para ilmuwan menggunakan fosil sebagai arsip ilmiah. Fosil kerang purba tersebut, yang berasal dari sekitar 70 juta tahun lalu, menjadi saksi bisu perputaran planet kita yang lebih dinamis di masa lalu. Temuan ini membuka perspektif baru dalam memahami evolusi Bumi dan dampaknya terhadap kehidupan purba, termasuk para dinosaurus yang pernah menguasai planet ini.
