Thursday, 13 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Lebih dari Sekadar Jerawat: 5 Tanda Stres Kronis yang Muncul di Kulit

Oleh Destian August 13, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Stres kronis bukan hanya membebani pikiran dan emosi, tetapi juga dapat bermanifestasi secara fisik, terutama pada kulit. Selain jerawat yang umum dikaitkan, ada setidaknya lima tanda lain yang bisa mengindikasikan tingkat stres yang tinggi dan berkepanjangan. Mengenali gejala-gejala ini penting untuk penanganan yang tepat, baik dari segi kesehatan mental maupun perawatan kulit.

Dr. Arini Astuti, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin, menjelaskan bahwa stres memicu pelepasan hormon kortisol yang berlebihan. Hormon ini dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk respons inflamasi dan produksi minyak pada kulit. Peningkatan kortisol inilah yang menjadi akar dari berbagai perubahan kulit akibat stres.

Salah satu tanda yang sering terabaikan adalah munculnya atau memburuknya kondisi eksim atau dermatitis. CNN Indonesia melaporkan bahwa stres dapat memicu kekambuhan pada individu yang memiliki riwayat penyakit kulit inflamasi ini. Peradangan yang meningkat akibat stres kronis membuat kulit menjadi lebih sensitif dan rentan terhadap iritasi.

Selain itu, perubahan tekstur kulit seperti menjadi lebih kering atau justru lebih berminyak juga bisa menjadi indikator. Kulit kering yang parah, bahkan hingga pecah-pecah, bisa disebabkan oleh stres yang mengganggu fungsi pelindung alami kulit. Sebaliknya, beberapa orang justru mengalami peningkatan produksi sebum yang dapat memperparah jerawat atau memicu komedo.

Masalah kerontokan rambut yang tidak biasa juga dapat dikaitkan dengan stres kronis. Kondisi yang dikenal sebagai telogen effluvium ini menyebabkan lebih banyak folikel rambut memasuki fase istirahat secara bersamaan, sehingga menyebabkan penipisan rambut yang terlihat beberapa bulan setelah periode stres yang signifikan. American Academy of Dermatology Association (AAD) mengonfirmasi hubungan antara stres berat dan kerontokan rambut.

Perubahan warna kulit, seperti munculnya flek hitam atau lingkaran gelap di bawah mata, juga dapat diperparah oleh stres. Stres kronis dapat memengaruhi sirkulasi darah dan meningkatkan peradangan, yang keduanya berkontribusi pada perubahan pigmentasi kulit. Lingkaran hitam di bawah mata, misalnya, seringkali terlihat lebih jelas saat seseorang kurang tidur akibat stres.

Terakhir, penuaan dini pada kulit merupakan dampak jangka panjang dari stres kronis. Peningkatan kortisol dapat merusak kolagen dan elastin, protein penting yang menjaga kekenyalan dan elastisitas kulit. Akibatnya, garis halus dan kerutan dapat muncul lebih cepat dari usia sebenarnya. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal *Nature* pada tahun 2021 menggarisbawahi bagaimana stres kronis dapat mempercepat proses penuaan seluler.

Para ahli menyarankan agar penanganan stres kronis tidak hanya berfokus pada perawatan kulit dari luar, tetapi juga penting untuk mengatasi akar masalahnya. Teknik relaksasi, olahraga teratur, pola makan sehat, dan tidur yang cukup adalah beberapa strategi yang dapat membantu mengurangi dampak stres pada tubuh, termasuk pada kulit. Jika gejala semakin parah, konsultasi dengan dokter spesialis kulit dan psikolog atau psikiater sangat disarankan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp