Sebuah studi ilmiah terbaru menemukan bahwa kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi baru lahir memiliki dampak signifikan dalam mencegah depresi postpartum. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya interaksi fisik awal ini bagi kesehatan mental ibu pasca melahirkan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka, seperti yang dilaporkan oleh CNN Indonesia, menyoroti bagaimana metode yang dikenal sebagai skin-to-skin contact atau perawatan kanguru ini, tidak hanya bermanfaat bagi bayi dalam hal pengaturan suhu dan detak jantung, tetapi juga memberikan efek positif yang mendalam bagi ibu.
Menurut Dr. Sarah Johnson, seorang peneliti utama dalam studi tersebut yang dikutip oleh The Guardian, kontak kulit-ke-kulit melepaskan hormon oksitosin pada ibu. Oksitosin, sering disebut sebagai ‘hormon cinta’, berperan penting dalam ikatan ibu-anak serta memiliki efek menenangkan dan mengurangi stres.
Studi ini melibatkan ratusan ibu baru di beberapa negara dan membandingkan kelompok yang melakukan kontak kulit-ke-kulit secara rutin dengan kelompok yang tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa ibu yang lebih banyak melakukan kontak kulit-ke-kulit melaporkan tingkat kecemasan dan gejala depresi yang jauh lebih rendah dalam beberapa bulan pertama setelah melahirkan.
Selain oksitosin, pelepasan hormon lain seperti prolaktin juga terstimulasi oleh kontak kulit-ke-kulit. Prolaktin tidak hanya mendukung produksi ASI tetapi juga dikaitkan dengan perasaan kesejahteraan dan kepuasan ibu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF sendiri telah lama merekomendasikan perawatan kanguru sebagai praktik standar untuk bayi baru lahir, terutama bayi prematur. Namun, studi terbaru ini memberikan bukti ilmiah yang lebih kuat mengenai manfaatnya secara spesifik untuk kesehatan mental ibu.
Para ahli kesehatan menyarankan agar fasilitas kesehatan dan tenaga medis terus mendorong praktik ini. Edukasi kepada calon ibu dan pasangannya mengenai pentingnya kontak fisik dini dengan bayi diharapkan dapat menjadi bagian integral dari perawatan prenatal dan postnatal.
Langkah selanjutnya yang perlu dipantau adalah bagaimana temuan ini dapat diintegrasikan lebih luas ke dalam protokol persalinan dan perawatan pasca melahirkan di berbagai negara, serta bagaimana dukungan berkelanjutan dapat diberikan kepada ibu untuk memaksimalkan manfaat kontak kulit-ke-kulit.
