Sunday, 9 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Waspadai 7 Kesalahan MPASI yang Sering Dilakukan Orang Tua, Ini Imbauan Ahli

Oleh Destian August 9, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) merupakan fase krusial dalam tumbuh kembang bayi. Namun, tak jarang orang tua melakukan sejumlah kesalahan yang dapat berdampak pada kesehatan anak. Kesalahan umum ini sering kali dipengaruhi oleh informasi yang simpang siur, terutama dari media sosial. Ahli gizi mengingatkan orang tua untuk lebih cermat agar buah hati mendapatkan nutrisi yang optimal.

Salah satu kesalahan yang paling sering dijumpai adalah pemberian MPASI terlalu dini atau justru terlalu lambat. Menurut rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, MPASI idealnya dimulai saat bayi berusia enam bulan. Pemberian sebelum enam bulan dapat membebani sistem pencernaan bayi yang belum matang, sementara penundaan pemberian MPASI dapat menyebabkan defisiensi zat gizi penting seperti zat besi dan energi.

Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah komposisi MPASI yang tidak seimbang. Banyak orang tua masih berfokus pada satu jenis bahan makanan, misalnya hanya memberikan bubur nasi atau sayuran tanpa protein hewani. Padahal, MPASI harus mengandung karbohidrat, protein hewani (seperti ayam, ikan, daging sapi, telur), protein nabati, lemak sehat, serta vitamin dan mineral dari sayuran dan buah-buahan. Keseimbangan ini penting untuk mendukung tumbuh kembang otak dan fisik bayi.

Pemberian gula dan garam pada MPASI juga menjadi sorotan. Beberapa sumber informasi di media sosial mungkin menyarankan penambahan gula atau garam untuk meningkatkan selera makan bayi. Namun, para ahli kesehatan, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tegas melarang penambahan gula dan garam pada MPASI sebelum bayi berusia satu tahun. Ginjal bayi belum mampu memproses kadar garam yang tinggi, dan paparan gula berlebih dapat membentuk preferensi rasa manis yang kurang baik di kemudian hari.

Tekstur MPASI yang tidak sesuai usia juga sering diabaikan. Bayi yang baru memulai MPASI membutuhkan tekstur yang halus dan lembut. Seiring bertambahnya usia, tekstur dapat ditingkatkan secara bertahap menjadi lebih kasar, cincang, hingga makanan keluarga. Memberikan makanan dengan tekstur yang terlalu kasar pada bayi muda dapat menyulitkan proses menelan dan berisiko tersedak, sementara tekstur yang terlalu halus untuk bayi yang lebih besar dapat menghambat stimulasi keterampilan mengunyah.

Praktik pemberian MPASI yang tidak higienis juga menjadi faktor risiko. Kebersihan alat masak, bahan makanan, dan kebersihan tangan pengasuh sangatlah vital. Kontaminasi bakteri dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada bayi. Penting untuk memastikan semua bahan makanan dimasak hingga matang sempurna dan disimpan dengan benar.

Selain itu, orang tua terkadang terjebak dalam tren MPASI yang viral di media sosial tanpa melakukan verifikasi kebenaran ilmiahnya. Beberapa tren mungkin menawarkan resep yang tampak menarik namun belum tentu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi atau bahkan berpotensi membahayakan. Konsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi seringkali menjadi langkah bijak sebelum mengadopsi metode atau resep MPASI baru.

Menanggapi maraknya informasi yang beredar, Kementerian Kesehatan RI melalui berbagai platform edukasi terus mengimbau masyarakat untuk berpegang pada panduan resmi pemberian MPASI. Panduan tersebut dapat diakses melalui situs web Kemenkes atau puskesmas terdekat. Fokus pada nutrisi seimbang, kebersihan, dan tekstur yang sesuai usia adalah kunci utama keberhasilan MPASI.

Bagikan: Facebook X WhatsApp