Mata juling atau strabismus pada bayi merupakan kondisi yang memerlukan perhatian serius karena dapat memengaruhi perkembangan penglihatan jangka panjang. Deteksi dini sangat krusial untuk penanganan yang efektif. Orang tua perlu mengenali setidaknya lima ciri utama yang mengindikasikan kemungkinan mata juling pada buah hati mereka sejak usia dini.
Strabismus adalah kondisi di mana kedua mata tidak sejajar dan mengarah ke arah yang berbeda. Hal ini bisa terjadi karena masalah pada otot mata, saraf, atau pusat penglihatan di otak. Jika tidak ditangani, strabismus dapat menyebabkan amblyopia atau mata malas, yang merupakan penurunan penglihatan permanen pada mata yang lebih lemah.
Menurut laporan dari American Academy of Ophthalmology, strabismus dapat dideteksi sejak bayi. Salah satu ciri yang paling kentara adalah ketika mata bayi terlihat tidak fokus atau salah satu mata tampak mengarah ke dalam, keluar, ke atas, atau ke bawah, sementara mata lainnya melihat lurus ke depan. Fenomena ini bisa terjadi sesekali atau terus-menerus.
Ciri kedua yang perlu diwaspadai adalah perbedaan dalam cara mata bayi berkedip atau bereaksi terhadap cahaya. Jika orang tua melihat bahwa satu mata bayi tampak lebih sering berkedip atau tertutup saat terpapar cahaya terang dibandingkan mata lainnya, ini bisa menjadi indikasi awal. Hal ini bisa jadi cara otak bayi untuk mencoba mengkompensasi penglihatan yang tidak jelas.
Ciri ketiga yang patut diperhatikan adalah ketika bayi cenderung memiringkan kepala. Bayi mungkin memiringkan kepala mereka untuk mencoba melihat objek dengan lebih jelas, terutama jika ada perbedaan arah pandangan antara kedua mata. Ini adalah mekanisme kompensasi yang dilakukan otak untuk menyatukan gambaran dari kedua mata.
Selanjutnya, ciri keempat adalah perubahan pada pantulan cahaya di pupil kedua mata. Idealnya, pantulan cahaya pada pupil kedua mata seharusnya berada di posisi yang simetris. Jika orang tua melihat ada perbedaan posisi pantulan cahaya di pupil salah satu mata dibandingkan mata lainnya saat terkena sumber cahaya, ini bisa menjadi tanda strabismus.
Terakhir, ciri kelima adalah ketika bayi tampak kesulitan untuk mengikuti objek bergerak dengan kedua matanya secara bersamaan. Bayi yang normal biasanya mulai bisa mengoordinasikan gerakan kedua matanya untuk melacak objek pada usia beberapa bulan. Jika bayi terlihat hanya menggunakan satu mata untuk melacak gerakan atau kedua matanya bergerak secara independen, ini perlu dicermati.
Penting bagi orang tua untuk tidak ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis mata anak jika menemukan salah satu atau lebih dari ciri-ciri tersebut. Penanganan dini yang meliputi pemeriksaan rutin, penggunaan kacamata, penutupan mata (patching), atau bahkan operasi, dapat sangat membantu mengembalikan fungsi penglihatan normal pada anak.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui berbagai kampanye kesehatan mata anak, terus mengimbau masyarakat untuk proaktif dalam memantau kesehatan mata buah hati. Jadwal pemeriksaan mata rutin, terutama pada bayi dan balita, direkomendasikan sebagai langkah preventif yang efektif.
