Thursday, 13 August 2026
BREAKING
Berita

Ekonom Ungkap Potensi Ekspor Unggulan Indonesia Selain Komoditas Tradisional

Oleh Ishak August 13, 2026 51 minutes lalu 0 komentar

JAKARTA – Di tengah dominasi ekspor nikel, minyak kelapa sawit (CPO), dan batu bara, Indonesia ternyata memiliki ‘harta karun’ lain yang berpotensi besar mendongkrak devisa negara. Para ekonom menilai, diversifikasi produk ekspor menjadi kunci penting untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada komoditas primer.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyoroti pentingnya melihat potensi sektor lain yang belum tergarap optimal. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, namun belum sepenuhnya dioptimalkan untuk pasar ekspor global.

Yusuf merujuk pada sektor-sektor seperti produk hilirisasi hasil tambang, produk pertanian olahan, hingga industri kreatif yang dinilai memiliki daya saing tinggi. Ia menekankan bahwa penguatan rantai nilai pada sektor-sektor ini dapat meningkatkan nilai tambah produk ekspor Indonesia secara signifikan.

Sebagai contoh, produk hilirisasi nikel, seperti baterai kendaraan listrik, tidak hanya mengamankan pasokan bahan baku tetapi juga menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan ekspor bijih nikel mentah. Hal serupa juga berlaku untuk produk pertanian, di mana pengolahan menjadi makanan siap saji atau produk turunan lainnya dapat membuka pasar ekspor yang lebih luas.

Selain itu, sektor industri kreatif, termasuk produk kerajinan tangan, fashion, dan konten digital, juga disebut memiliki potensi besar. Dengan keunikan budaya dan kreativitas anak bangsa, produk-produk ini dapat bersaing di pasar internasional, bahkan seringkali tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga komoditas global.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun nikel, CPO, dan batu bara masih mendominasi, kontribusi sektor manufaktur dan jasa terus meningkat. Peningkatan ekspor produk olahan makanan dan minuman, misalnya, menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.

Para ekonom juga menyarankan perlunya dukungan kebijakan yang lebih kuat dari pemerintah, termasuk insentif bagi pelaku usaha, peningkatan kualitas riset dan pengembangan, serta fasilitasi akses pasar internasional. Edukasi dan pelatihan bagi pelaku UMKM untuk memenuhi standar ekspor global juga menjadi krusial.

Dengan diversifikasi dan penguatan produk ekspor non-komoditas primer, Indonesia diharapkan dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil, resilien terhadap gejolak eksternal, dan mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

Perjalanan untuk mengoptimalkan ‘harta karun’ ekspor ini tentu memerlukan waktu dan upaya berkelanjutan. Namun, dengan strategi yang tepat dan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi, potensi besar ini dapat diwujudkan demi kemajuan ekonomi nasional.

Bagikan: Facebook X WhatsApp