Infeksi menular seksual (IMS) dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia atau status perkawinan. Namun, banyak penderita yang kerap mengabaikan gejala awal karena dianggap sepele atau tidak spesifik. Padahal, penanganan dini sangat krusial untuk mencegah komplikasi serius dan penyebaran lebih lanjut.
Dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Arini Astasari, Sp.KK, dalam sebuah sesi edukasi daring yang diliput oleh CNN Indonesia pada 8 September 2026, mengingatkan bahwa gejala IMS tidak selalu kentara. Beberapa IMS bahkan bisa tidak menunjukkan gejala sama sekali, yang dikenal sebagai infeksi asimtomatik. Kondisi ini semakin memperbesar risiko penularan tanpa disadari.
Salah satu gejala yang sering terabaikan adalah rasa gatal atau iritasi ringan di area genital. Banyak orang menganggapnya sebagai iritasi biasa akibat pakaian dalam atau sabun. Padahal, gejala ini bisa menjadi tanda awal infeksi seperti herpes genital atau kutil kelamin. Selain itu, perubahan pada cairan vagina atau penis, seperti keluarnya cairan yang tidak biasa, berbau, atau berwarna kuning kehijauan, juga patut diwaspadai. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) secara konsisten menekankan pentingnya pemantauan terhadap perubahan abnormal pada organ intim.
Gejala lain yang kerap diabaikan adalah nyeri saat buang air kecil atau saat berhubungan seksual. Nyeri ini bisa terasa ringan hingga berat, dan seringkali dikaitkan dengan infeksi saluran kemih (ISK) biasa. Namun, jika nyeri tersebut disertai gejala lain seperti kemerahan, bengkak, atau luka di area genital, kemungkinan besar ini adalah gejala IMS seperti gonore atau klamidia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui berbagai kampanye kesehatan publik juga terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini IMS.
Munculnya benjolan, luka lepuh, atau kutil di area sekitar alat kelamin, anus, atau mulut juga merupakan indikator penting. Luka yang tidak nyeri sekalipun, seperti pada sifilis stadium awal, bisa menjadi tanda infeksi yang serius. Jika luka tersebut tidak diobati, dapat berkembang ke stadium selanjutnya dan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih parah. Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, penundaan pengobatan IMS dapat meningkatkan risiko kemandulan, penyakit radang panggul, hingga kanker serviks.
Penting untuk diingat bahwa IMS dapat disebabkan oleh berbagai jenis patogen, termasuk bakteri, virus, dan parasit. Masing-masing memiliki gejala dan tingkat keparahan yang berbeda. Beberapa IMS yang umum diabaikan gejalanya antara lain klamidia, gonore, trikomoniasis, dan herpes genital. Infeksi HPV (Human Papillomavirus) yang dapat menyebabkan kutil kelamin juga seringkali tidak disadari hingga muncul lesi yang terlihat.
Para ahli kesehatan merekomendasikan agar masyarakat yang aktif secara seksual melakukan pemeriksaan rutin terhadap IMS, terutama jika memiliki lebih dari satu pasangan seksual atau jika pasangan memiliki riwayat IMS. Pemanfaatan layanan kesehatan seperti puskesmas, klinik pratama, atau rumah sakit dapat menjadi langkah awal yang aman dan terpercaya. Komunikasi terbuka dengan pasangan mengenai kesehatan seksual juga sangat dianjurkan.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi, diharapkan semakin banyak individu yang proaktif dalam mendeteksi dan menangani IMS sejak dini. Kampanye kesadaran yang terus digalakkan oleh berbagai lembaga kesehatan nasional dan internasional, seperti yang sering diberitakan oleh media terkemuka, menjadi kunci utama dalam memerangi penyebaran IMS dan mencegah dampaknya di masyarakat.
