Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin dilaporkan telah menawarkan pengadaan 36 unit kendaraan tempur lapis baja amfibi kepada Menteri Pertahanan Indonesia yang juga calon presiden terpilih, Prabowo Subianto. Tawaran ini muncul saat kedua pejabat bertemu di sela-sela acara KTT ASEAN di Jakarta, menandakan potensi peningkatan kerja sama pertahanan antara kedua negara.
Pertemuan antara PM Srettha dan Prabowo berlangsung pada Rabu (3/7/2024) di sela-sela KTT ASEAN ke-45 yang diselenggarakan di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, PM Thailand secara spesifik menawarkan penjualan 36 unit kendaraan tempur lapis baja amfibi. Detail mengenai jenis spesifik kendaraan yang ditawarkan belum dirinci lebih lanjut, namun penawaran ini menunjukkan adanya potensi transaksi pertahanan yang signifikan.
Sumber yang dekat dengan pembicaraan tersebut menyebutkan bahwa tawaran ini merupakan bagian dari upaya Thailand untuk memperkuat hubungan bilateral, khususnya di sektor pertahanan. Pengadaan kendaraan tempur lapis baja amfibi ini dipandang dapat meningkatkan kapabilitas pertahanan Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan geografis berupa kepulauan yang luas.
Prabowo Subianto, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan, menyambut baik tawaran tersebut. Ia menyatakan ketertarikannya terhadap potensi kerja sama ini, mengingat pengalaman dan kebutuhan Indonesia dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam pengadaan alutsista dari berbagai negara, termasuk dalam pengembangan kendaraan tempur.
Penawaran ini datang di tengah upaya Indonesia untuk terus memodernisasi kekuatan pertahanannya. Kementerian Pertahanan Indonesia secara berkelanjutan melakukan evaluasi dan pengadaan alutsista baru untuk menjaga kedaulatan negara dan menghadapi berbagai ancaman. Kendaraan tempur lapis baja amfibi memiliki peran strategis, terutama untuk operasi pendaratan di pantai dan pergerakan di medan yang beragam.
Thailand sendiri merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki industri pertahanan yang cukup berkembang. Produksi kendaraan tempur lapis baja amfibi bukan hal baru bagi mereka, yang dapat menjadi nilai tambah dalam negosiasi dan potensi transfer teknologi di masa depan.
Keterlibatan Prabowo Subianto dalam pertemuan ini juga menyoroti perannya yang semakin sentral dalam kebijakan pertahanan dan luar negeri Indonesia, terutama pasca-pemilihan presiden. Kemampuannya untuk menjalin hubungan baik dengan para pemimpin negara tetangga akan menjadi kunci dalam merealisasikan potensi kerja sama strategis seperti ini.
Perkembangan lebih lanjut mengenai detail teknis, nilai transaksi, dan jadwal pengadaan akan menjadi perhatian penting dalam beberapa waktu ke depan. Kesepakatan ini, jika terealisasi, akan menjadi salah satu bentuk konkret kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Thailand yang patut dipantau.
