Dua destinasi alam Indonesia, Taman Nasional Ujung Kulon di Banten dan kawasan hutan Kalimantan, kembali menorehkan prestasi di kancah internasional dengan masuk dalam daftar 10 besar destinasi wisata satwa liar terbaik di dunia. Pengakuan ini menegaskan kekayaan biodiversitas Indonesia dan potensi besar sektor pariwisata berbasis alam.
Daftar bergengsi ini disusun oleh sebuah lembaga riset pariwisata internasional yang belum diidentifikasi secara spesifik oleh sumber awal, namun penempatannya di urutan teratas menunjukkan keistimewaan ekosistem dan pengalaman unik yang ditawarkan kedua lokasi tersebut. Taman Nasional Ujung Kulon dikenal sebagai habitat terakhir badak Jawa yang langka, sementara Kalimantan menjadi rumah bagi orangutan yang ikonik.
Menurut informasi yang beredar, Taman Nasional Ujung Kulon menawarkan pengalaman melihat badak Jawa secara langsung di habitat aslinya, sebuah kesempatan langka yang sangat dicari oleh para pecinta satwa liar global. Selain badak, kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa lain seperti banteng, kancil, dan berbagai spesies burung.
Sementara itu, keunikan Kalimantan terletak pada hutan hujan tropisnya yang luas dan kaya akan keanekaragaman hayati. Pengunjung dapat menyaksikan orangutan berayun di pepohonan, melihat bekantan dengan hidung mancungnya, serta berbagai spesies primata dan burung endemik lainnya. Beberapa operator tur juga menawarkan ekspedisi ke pedalaman hutan untuk pengalaman yang lebih mendalam.
CNN Indonesia melaporkan pada 1 September 2026 bahwa penempatan kedua lokasi ini dalam daftar 10 besar dunia tersebut menjadi bukti nyata upaya konservasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan berbagai pihak terkait. Luasnya kawasan yang dilindungi dan keberhasilan program rehabilitasi satwa menjadi faktor kunci pengakuan ini.
Meskipun detail spesifik mengenai kriteria penilaian dan lembaga yang merilis daftar ini belum sepenuhnya terperinci dalam sumber awal, pengakuan ini diperkirakan akan mendorong peningkatan minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Hal ini juga berpotensi meningkatkan kesadaran global akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan satwa liar.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mempromosikan destinasi wisata alam Indonesia secara lebih gencar. Fokus pada ekowisata berkelanjutan akan menjadi kunci untuk memastikan manfaat ekonomi dari pariwisata ini tidak mengorbankan kelestarian lingkungan.
Pihak pengelola Taman Nasional Ujung Kulon dan otoritas kehutanan di Kalimantan diharapkan terus meningkatkan fasilitas dan layanan bagi pengunjung, sembari memperketat regulasi untuk melindungi satwa dan ekosistem dari aktivitas yang merusak. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi akan menjadi krusial dalam menjaga reputasi dan keberlanjutan kedua destinasi kelas dunia ini.
Selanjutnya, publik menantikan pengumuman resmi dari lembaga riset pariwisata tersebut mengenai daftar lengkap dan metodologi penilaian yang digunakan, serta respons dan strategi promosi pariwisata yang akan diluncurkan oleh Kemenparekraf RI.
