Tuesday, 1 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Bahaya Grooming: Penipuan Kepercayaan yang Mengintai Korban

Oleh Destian September 1, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Fenomena grooming, sebuah praktik manipulatif yang membangun kepercayaan untuk mengeksploitasi korban, semakin mengkhawatirkan di berbagai lapisan masyarakat. Tindakan ini kerap kali disamarkan sebagai kepedulian, bimbingan, atau bahkan persahabatan, sehingga sulit dideteksi oleh korban maupun lingkungan sekitarnya, terutama anak-anak dan remaja.

Grooming merupakan proses terencana yang dilakukan oleh pelaku untuk mendapatkan kepercayaan dan menguasai korban. Pelaku akan melakukan serangkaian tindakan untuk menciptakan hubungan emosional yang kuat, seringkali dengan memanfaatkan kerentanan korban seperti kesepian, rasa tidak aman, atau keinginan untuk diterima. CNN Indonesia melaporkan pada Agustus 2026 bahwa bahaya ini seringkali tidak memiliki nama yang jelas di mata publik, namun dampaknya bisa sangat merusak.

Ahli psikologi anak, seperti yang dikutip dalam berbagai pemberitaan, menjelaskan bahwa pelaku grooming umumnya akan memulai dengan memberikan perhatian, pujian, atau hadiah kepada korban. Mereka juga seringkali menjadi pendengar yang baik, menawarkan solusi atas masalah korban, atau bahkan berbagi rahasia untuk menciptakan kedekatan. Taktik ini dirancang untuk membuat korban merasa istimewa dan bergantung pada pelaku.

Proses ini bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama, bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sebelum pelaku mulai mengeksploitasi korban secara fisik, seksual, finansial, atau emosional. Korban yang sudah terlanjur percaya seringkali merasa bingung, takut, atau malu untuk melaporkan kejadian tersebut, bahkan kepada orang terdekat.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) secara konsisten mengingatkan masyarakat akan pentingnya edukasi mengenai grooming, terutama bagi orang tua dan pendidik. Juru Bicara KemenPPPA, dalam beberapa kesempatan, menekankan perlunya dialog terbuka antara orang tua dan anak mengenai batasan pribadi, keamanan daring, dan cara mengenali perilaku mencurigakan.

Pihak berwenang dan lembaga perlindungan anak terus berupaya meningkatkan kesadaran publik melalui kampanye dan program edukasi. Namun, tantangan utama tetap pada bagaimana masyarakat dapat secara proaktif mengenali tanda-tanda awal grooming dan bagaimana korban dapat merasa aman untuk mencari pertolongan tanpa rasa takut akan stigma atau ketidakpercayaan.

Upaya pencegahan dan penanganan grooming membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat luas. Peningkatan literasi digital dan pemahaman tentang psikologi anak menjadi kunci utama dalam melindungi generasi muda dari ancaman bahaya yang kerap kali datang dalam balutan kepercayaan.

Ke depannya, diharapkan akan ada lebih banyak diskusi publik dan kebijakan yang proaktif untuk memperkuat mekanisme perlindungan anak dari praktik grooming. KemenPPPA juga terus mendorong pelaporan kasus dan penyediaan layanan pendukung bagi para korban agar mereka dapat pulih dan mendapatkan keadilan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp