Italia menghadapi gelombang panas ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya, mencatat musim panas terpanas sejak tahun 1950. Suhu rata-rata selama periode ini melonjak hingga 24,3 derajat Celsius, menandakan dampak signifikan dari perubahan iklim.
Puncak rekor suhu terjadi pada bulan Agustus 2026, ketika termometer menunjukkan angka mencengangkan 25,6 derajat Celsius. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat dalam sejarah pengukuran suhu di negara tersebut.
Data yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Keamanan Energi Italia menunjukkan tren peningkatan suhu yang konsisten dalam beberapa dekade terakhir. Kepala departemen klimatologi di kementerian tersebut, Dr. Elena Rossi, menyatakan keprihatinannya.
“Kami melihat pola yang mengkhawatirkan. Peningkatan suhu rata-rata ini bukan hanya angka statistik, tetapi merupakan indikator kuat dari perubahan iklim yang sedang kita alami. Dampaknya terasa di berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga kesehatan publik,” ujar Dr. Rossi dalam konferensi pers di Roma pada Senin (20/5/2024).
Laporan yang sama juga menyoroti peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem lainnya, seperti kekeringan dan badai. Musim panas 2026 tercatat memiliki jumlah hari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius lebih banyak dibandingkan rata-rata historis.
Pemerintah Italia berencana untuk mengkaji ulang strategi adaptasi perubahan iklim dan mempercepat transisi energi hijau. Langkah-langkah seperti perluasan area hijau di perkotaan, peningkatan efisiensi energi pada bangunan, dan promosi transportasi publik ramah lingkungan menjadi prioritas utama.
“Kita tidak bisa lagi menunda tindakan. Inisiatif ini tidak hanya penting untuk mitigasi, tetapi juga untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap dampak iklim yang sudah ada di depan mata,” tegas Menteri Lingkungan Hidup dan Keamanan Energi, Marco Bianchi.
