Saturday, 12 September 2026
BREAKING
Ekonomi

BPS Jelaskan Rumus Rumit di Balik Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan: Lebih dari 40 Variabel Dihitung

Oleh Ishak September 11, 2026 60 minutes lalu 0 komentar

Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan kompleksitas dalam menentukan status desil dan mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia, yang ternyata melibatkan perhitungan lebih dari 40 variabel. Penjelasan ini penting untuk memahami bagaimana data kemiskinan dihasilkan dan bagaimana kebijakan penanggulangannya dirancang.

Kepala BPS, Suryamin, dalam berbagai kesempatan, termasuk saat konferensi pers dan pertemuan dengan pemangku kepentingan, menegaskan bahwa penetapan desil, yang membagi penduduk menjadi sepuluh kelompok berdasarkan tingkat konsumsi, bukanlah proses sederhana. Setiap desil merepresentasikan rentang konsumsi yang berbeda, mulai dari yang paling bawah hingga paling atas.

Lebih lanjut, Suryamin menjelaskan bahwa variabel-variabel yang digunakan mencakup berbagai aspek kebutuhan dasar rumah tangga. Ini tidak hanya terbatas pada pengeluaran untuk makanan, tetapi juga mencakup pengeluaran non-makanan seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan rekreasi. Setiap variabel ini memiliki bobot dan peran masing-masing dalam menentukan posisi seseorang dalam distribusi konsumsi.

Proses perhitungan ini didasarkan pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang rutin dilaksanakan oleh BPS. Susenas mengumpulkan informasi rinci mengenai pola konsumsi, pengeluaran, dan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun perdesaan. Akurasi data Susenas menjadi krusial untuk menghasilkan gambaran kemiskinan yang valid.

Angka kemiskinan yang sering dirilis BPS merupakan hasil dari perbandingan antara total pengeluaran per kapita per bulan dengan garis kemiskinan. Garis kemiskinan sendiri juga ditentukan berdasarkan komponen makanan dan non-makanan. Namun, penentuan desil memberikan gambaran yang lebih granular mengenai distribusi kesejahteraan penduduk, tidak hanya membagi mereka menjadi miskin dan tidak miskin.

Dengan menggunakan lebih dari 40 variabel, BPS berupaya menangkap keragaman pola konsumsi dan kebutuhan masyarakat. Hal ini penting karena kebutuhan dan prioritas pengeluaran bisa berbeda antar kelompok masyarakat, baik berdasarkan lokasi geografis, status pekerjaan, maupun tingkat pendidikan kepala rumah tangga.

Pemahaman mendalam mengenai metodologi ini juga krusial bagi para perencana kebijakan. Data desil dan kemiskinan yang akurat memungkinkan pemerintah untuk merancang program bantuan sosial yang lebih tepat sasaran dan efektif, serta memantau dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, BPS terus berupaya meningkatkan kualitas survei dan metodologi perhitungan agar data yang dihasilkan senantiasa relevan dan dapat diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan pembangunan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp