Friday, 28 August 2026
BREAKING
Kesehatan

Bahaya Tersembunyi: Kebiasaan Kencing Tak Tuntas Ancam Kesehatan Ginjal

Oleh Destian August 28, 2026 59 minutes lalu 0 komentar

Kebiasaan menahan buang air kecil atau tidak tuntas saat berkemih, yang sering dianggap remeh, ternyata dapat membawa dampak serius bagi kesehatan, terutama pada organ ginjal. Kondisi ini bisa menjadi indikasi awal adanya gangguan pada prostat atau penyakit lain yang memerlukan perhatian medis segera.

Dokter spesialis urologi, dr. Widi Atmoko, Sp.U, menjelaskan bahwa ketidakmampuan untuk mengeluarkan urine secara tuntas atau adanya gangguan pada pola berkemih dapat memicu berbagai komplikasi. Salah satunya adalah risiko infeksi saluran kemih yang berulang. Jika infeksi ini tidak ditangani dengan baik, bakteri dapat naik hingga ke ginjal, menyebabkan infeksi ginjal atau pielonefritis. “Infeksi ginjal yang parah dan berulang dapat merusak jaringan ginjal secara permanen, bahkan berpotensi menyebabkan gagal ginjal,” ujar dr. Widi.

Lebih lanjut, dr. Widi menguraikan bahwa penumpukan urine di kandung kemih akibat tidak tuntasnya pengosongan dapat meningkatkan tekanan di dalam kandung kemih. Tekanan yang meningkat ini tidak hanya melemahkan otot kandung kemih seiring waktu, tetapi juga dapat menyebabkan refluks, yaitu kembalinya urine dari kandung kemih ke ureter dan bahkan hingga ke ginjal. Refluks urine ini dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal.

Penyebab paling umum dari gangguan pola kencing yang berujung pada ketidaksempurnaan pengosongan kandung kemih adalah pembesaran prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH). Kondisi ini sangat umum terjadi pada pria seiring bertambahnya usia. Prostat yang membesar dapat menekan uretra, saluran yang mengalirkan urine dari kandung kemih keluar tubuh, sehingga menghambat aliran urine.

Selain BPH, masalah lain yang dapat memengaruhi kemampuan berkemih meliputi batu kandung kemih, striktur uretra (penyempitan saluran kemih), atau bahkan kondisi neurologis yang memengaruhi fungsi saraf kandung kemih. “Penting untuk tidak mengabaikan gejala seperti kesulitan memulai buang air kecil, aliran urine yang lemah, rasa tidak tuntas setelah berkemih, atau sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil (nokturia),” tegas dr. Widi.

Oleh karena itu, para ahli medis menekankan pentingnya memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gangguan pada pola buang air kecil. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi yang lebih serius, termasuk kerusakan ginjal permanen. Dengan penanganan yang sesuai, kualitas hidup dapat terjaga dan risiko penyakit ginjal kronis dapat diminimalkan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp