Para ahli geologi kembali mengingatkan potensi ancaman gempa bumi di Pulau Jawa yang tidak hanya berasal dari sesar megathrust di zona subduksi, melainkan juga dari gempa intra-slab. Peringatan ini muncul seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kompleksitas patahan geologis di bawah kepulauan Indonesia, yang berpotensi menimbulkan dampak destruktif.
Gempa intra-slab adalah gempa yang terjadi di dalam lempeng tektonik yang tersubduksi, bukan di batas antar lempeng (seperti megathrust). Lempeng yang menyelam ke dalam mantel bumi mengalami tekanan dan deformasi, yang dapat memicu pecahnya patahan di bagian dalamnya. Zona subduksi Jawa-Sunda, yang merupakan pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, diketahui memiliki potensi gempa intra-slab yang signifikan.
Menurut para pakar, gempa intra-slab seringkali memiliki karakteristik yang berbeda dengan gempa megathrust. Gempa jenis ini cenderung terjadi lebih dalam di bawah permukaan bumi, namun energinya dapat dilepaskan dengan magnitudo yang besar dan getaran yang lebih kuat terasa hingga ke daratan. Potensi ini menjadi perhatian serius mengingat padatnya populasi di Pulau Jawa.
Deputi Bidang Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid, dalam beberapa kesempatan telah menekankan pentingnya memahami berbagai jenis potensi gempa. Ia menggarisbawahi bahwa pengetahuan mengenai gempa intra-slab perlu terus diperdalam untuk menyusun mitigasi yang lebih komprehensif.
Salah satu studi yang relevan menunjukkan bahwa zona subduksi Jawa memiliki segmen-segmen yang berpotensi menghasilkan gempa intra-slab dengan magnitudo di atas 7 Skala Richter. Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia mengalami tegangan yang terakumulasi, dan ketika tegangan tersebut mencapai batas elastisitasnya, patahan di dalam lempeng dapat patah dan menghasilkan gempa.
Dampak dari gempa intra-slab yang kuat bisa sangat merusak. Getaran yang intens dapat menyebabkan kerusakan bangunan yang parah, memicu tanah longsor, dan bahkan tsunami jika pusat gempa berada di dekat pantai atau memicu pergeseran dasar laut. Wilayah pesisir selatan Jawa, yang berdekatan dengan zona subduksi, menjadi area yang perlu mewaspadai kedua jenis ancaman gempa ini.
Pentingnya edukasi dan kesiapsiagaan publik menjadi sorotan utama. Masyarakat perlu memahami bahwa ancaman gempa tidak hanya terbatas pada gempa yang berasal dari sesar yang dekat dengan permukaan, tetapi juga gempa yang berasal dari kedalaman. Simulasi kebencanaan dan penyusunan rencana evakuasi yang mencakup skenario gempa intra-slab perlu terus ditingkatkan.
Penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik seismisitas di bawah Jawa, termasuk pemetaan zona patahan intra-slab dan estimasi potensi magnitudo gempa, sangat krusial. Data ini akan menjadi dasar bagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga terkait lainnya untuk memberikan informasi peringatan dini yang lebih akurat dan efektif kepada masyarakat.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang ancaman gempa intra-slab, upaya mitigasi bencana di Jawa dapat diperkuat, mengurangi risiko kerugian jiwa dan harta benda ketika peristiwa alam tersebut terjadi.
