Sebuah kota di Inggris dilaporkan mengerahkan 14 ekor hewan pemangsa untuk mengatasi masalah ribuan burung camar yang mengganggu kenyamanan wisatawan. Langkah drastis ini diambil menyusul keluhan yang meningkat dari para pengunjung terhadap perilaku agresif burung camar yang kerap mencuri makanan dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Menurut laporan dari media Inggris, The Sun, kota yang mengadopsi solusi unik ini adalah Bournemouth, sebuah resor pantai populer di Dorset, Inggris. Pengerahan hewan predator ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengelola populasi burung camar yang dianggap berlebihan dan mengganggu aktivitas pariwisata di wilayah tersebut.
Hewan-hewan yang disewa untuk tugas ini bukan sembarang predator. Laporan menyebutkan bahwa mereka adalah anjing terlatih khusus yang memiliki kemampuan untuk menakut-nakuti burung camar tanpa menyakiti mereka. Penggunaan anjing ini diharapkan dapat memberikan efek jera yang signifikan bagi kawanan burung camar yang berkeliaran di area publik, termasuk tepi pantai dan pusat kota.
Keputusan untuk menggunakan pendekatan ini muncul setelah berbagai upaya sebelumnya, seperti pemasangan jaring dan pengadaan tempat sampah khusus, tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tingginya jumlah burung camar yang terus mengganggu wisatawan, mulai dari merebut makanan dari tangan hingga menimbulkan kebisingan, mendorong otoritas setempat untuk mencari solusi yang lebih efektif.
Seorang juru bicara dari Dewan Bournemouth, seperti yang dikutip oleh The Sun, menyatakan bahwa kesejahteraan pengunjung adalah prioritas utama. “Kami mendengar kekhawatiran dari masyarakat dan wisatawan tentang masalah burung camar ini. Kami ingin memastikan bahwa Bournemouth tetap menjadi tempat yang menyenangkan dan aman untuk dikunjungi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penyewaan anjing predator ini adalah salah satu metode yang dipertimbangkan untuk meningkatkan pengalaman wisatawan.
Langkah ini disambut baik oleh sebagian pelaku usaha pariwisata yang berharap dapat mengurangi kerugian akibat gangguan burung camar. Namun, ada pula yang menyuarakan keprihatinan mengenai etika penggunaan hewan predator, meskipun ditegaskan bahwa anjing-anjing tersebut dilatih untuk tidak membahayakan burung camar.
Pihak berwenang setempat menyatakan bahwa program ini akan terus dievaluasi efektivitasnya. Jika berhasil, strategi serupa mungkin akan dipertimbangkan di area lain yang menghadapi masalah serupa. Rencananya, program ini akan berjalan selama beberapa bulan ke depan, dengan evaluasi berkala untuk menentukan apakah diperlukan perpanjangan atau modifikasi.
