Friday, 11 September 2026
BREAKING
Teknologi

Pakar UGM Ingatkan Ancaman Bencana Majemuk di Indonesia, Kesiapan Jadi Kunci

Oleh Achmad September 11, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Indonesia kembali diingatkan akan kerentanan geografisnya terhadap berbagai bencana alam yang mengancam. Mulai dari guncangan gempa bumi, gelombang tsunami yang dahsyat, hingga kebakaran hutan dan lahan yang kerap melanda, berbagai potensi bencana ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat. Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan pentingnya kesiapan baik dari sisi pemerintah maupun warga dalam menghadapi ancaman multidimensional ini.

Menurut Prof. Dr. Ir. Wahyu Wilopo, S.T., M.T., seorang ahli geoteknik dari UGM, Indonesia secara inheren berada di cincin api Pasifik (Ring of Fire), sebuah kawasan yang sangat aktif secara geologis. “Indonesia memang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Kondisi ini menjadikan Indonesia rawan terhadap gempa bumi,” jelasnya. Aktivitas vulkanik yang masif juga menjadi konsekuensi tak terhindarkan dari posisi geografis ini, dengan puluhan gunung berapi aktif yang tersebar di seluruh nusantara.

Selain gempa dan erupsi gunung berapi, ancaman lain yang tak kalah serius adalah tsunami. Sejarah telah mencatat berbagai peristiwa tsunami dahsyat yang menghancurkan pesisir Indonesia, seringkali dipicu oleh gempa bumi bawah laut berkekuatan besar. Prof. Wahyu menambahkan, “Perlu diingat bahwa gempa bumi yang terjadi di bawah laut berpotensi besar menimbulkan tsunami. Oleh karena itu, wilayah pesisir harus senantiasa waspada terhadap potensi ini.”

Tak hanya bencana geologis, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi masalah tahunan yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia, terutama saat musim kemarau. Fenomena ini tidak hanya mengancam ekosistem dan keanekaragaman hayati, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan masyarakat akibat kabut asap yang ditimbulkannya. Kesiapan mitigasi dan respons cepat dari pemerintah dan masyarakat sangat krusial untuk meminimalisir dampak karhutla.

Menghadapi kompleksitas ancaman bencana ini, Prof. Wahyu menekankan pentingnya pendekatan yang terpadu. Ia mengutip, “Kesiapan bukan hanya tentang memiliki alat dan teknologi, tetapi juga tentang edukasi masyarakat, simulasi bencana secara berkala, serta penguatan regulasi yang mendukung upaya mitigasi dan adaptasi bencana.” Kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan bencana yang kuat di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih siap dan tangguh dalam menghadapi berbagai bencana yang mungkin terjadi.

Bagikan: Facebook X WhatsApp