Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Satelit Copernicus Sentinel-2 milik Uni Eropa berhasil mendeteksi titik api tersebut pada Senin, 2 September 2024. Citra satelit menunjukkan asap tebal yang membubung tinggi dari area kebakaran dan bergerak mengarah ke wilayah pesisir.
Deteksi dini oleh satelit Uni Eropa ini memberikan gambaran visual mengenai skala dan arah penyebaran asap karhutla di Ketapang. Asap yang pekat ini berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan masyarakat dan aktivitas di wilayah pesisir, termasuk kemungkinan gangguan pada transportasi udara dan laut.
Meski demikian, tidak ada informasi lebih lanjut mengenai penyebab pasti kebakaran atau luasan area yang terbakar berdasarkan data satelit tersebut. Namun, kehadiran satelit pemantau seperti Copernicus Sentinel-2 menjadi alat penting dalam upaya deteksi dini dan penanganan karhutla di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.
Sebelumnya, pada periode yang sama, sejumlah wilayah di Indonesia juga dilaporkan mengalami peningkatan kasus karhutla. Pemerintah dan berbagai pihak terkait terus berupaya melakukan pemadaman dan pencegahan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih parah. Pemantauan melalui satelit menjadi salah satu instrumen krusial dalam strategi penanganan bencana ini.
