Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini merilis panduan komprehensif yang mengidentifikasi tujuh faktor risiko baru yang signifikan terkait peningkatan kemungkinan seseorang terkena demensia. Temuan ini menyoroti peran penting faktor lingkungan dan gaya hidup yang sebelumnya mungkin kurang mendapat perhatian, termasuk paparan polusi udara sebagai salah satu ancaman utama.
Panduan yang diterbitkan oleh WHO ini merupakan pembaruan dari rekomendasi sebelumnya dan didasarkan pada tinjauan ekstensif terhadap bukti ilmiah terbaru. Tujuannya adalah untuk memberikan kerangka kerja yang lebih kuat bagi negara-negara dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan demensia yang semakin menjadi beban kesehatan global.
Salah satu faktor risiko yang paling disorot dalam panduan baru ini adalah polusi udara. Menurut laporan WHO, partikel halus (PM2.5) dan nitrogen dioksida (NO2) yang umum ditemukan dalam polusi udara perkotaan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Paparan jangka panjang terhadap polutan ini diduga dapat menyebabkan peradangan saraf dan kerusakan pembuluh darah otak.
Selain polusi udara, WHO juga mengidentifikasi enam faktor risiko baru lainnya. Faktor-faktor ini mencakup kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan yang tidak sehat, gangguan pendengaran, serta cedera kepala traumatis. Daftar ini menekankan pentingnya pendekatan multidimensional dalam pencegahan demensia, yang melampaui faktor genetik semata.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataannya yang dirilis melalui situs web resmi WHO, menekankan bahwa sebagian besar kasus demensia dapat dicegah. “Meskipun tidak ada obat untuk demensia, fokus pada pencegahan dan pengelolaan faktor risiko dapat membuat perbedaan besar dalam kualitas hidup jutaan orang di seluruh dunia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa panduan ini bertujuan memberdayakan individu dan pembuat kebijakan dengan informasi terkini untuk mengurangi beban demensia.
Panduan baru ini juga menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan kardiovaskular sebagai salah satu strategi kunci dalam pencegahan demensia. Tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas yang merupakan faktor risiko penyakit jantung juga dikonfirmasi kembali memiliki korelasi kuat dengan peningkatan risiko gangguan kognitif. Namun, penambahan faktor lingkungan seperti polusi udara dan faktor gaya hidup spesifik seperti gangguan pendengaran memberikan gambaran yang lebih holistik.
Laporan WHO diperkirakan akan menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan kesehatan nasional di berbagai negara. Otoritas kesehatan diharapkan dapat mengintegrasikan rekomendasi ini dalam program pencegahan penyakit tidak menular dan promosi kesehatan masyarakat. Fokus pada pengurangan paparan polusi udara, misalnya, dapat mendorong investasi pada energi bersih dan transportasi publik yang lebih baik.
Langkah selanjutnya yang perlu dipantau adalah bagaimana negara-negara anggota WHO akan menerjemahkan panduan ini menjadi tindakan nyata. Pertemuan-pertemuan tingkat regional dan nasional yang membahas implementasi strategi pencegahan demensia diperkirakan akan segera dijadwalkan untuk menyelaraskan upaya global dalam memerangi ancaman kesehatan yang terus berkembang ini.
