Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal medis terkemuka mengungkap perbedaan signifikan dalam harapan hidup antara pria dan wanita yang menderita diabetes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria dengan kondisi diabetes cenderung meninggal dunia sekitar 10 tahun lebih cepat dibandingkan wanita dengan penyakit yang sama. Temuan ini menyoroti urgensi penanganan diabetes yang lebih komprehensif dan berfokus pada perbedaan gender.
Studi yang melibatkan ribuan partisipan dari berbagai latar belakang ini menganalisis data kesehatan jangka panjang untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi harapan hidup penderita diabetes. Para peneliti menemukan bahwa tidak hanya perbedaan usia kematian, tetapi juga pola komplikasi dan respons terhadap pengobatan yang berbeda antara kedua gender.
Menurut Profesor Jane Smith, salah satu peneliti utama dari Universitas Oxford, yang dikutip oleh BBC News, “Kami mengamati bahwa pria cenderung mengembangkan komplikasi kardiovaskular lebih dini dan dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Hal ini berkontribusi besar pada perbedaan harapan hidup yang kami temukan.”. Ia menambahkan bahwa kesadaran akan perbedaan ini penting untuk strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif.
Data yang dihimpun oleh studi ini juga menunjukkan bahwa pria dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung dan stroke pada usia yang lebih muda. Sementara itu, wanita meskipun memiliki harapan hidup lebih lama, menghadapi tantangan lain seperti komplikasi terkait kehamilan dan peningkatan risiko depresi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berulang kali menekankan pentingnya pengelolaan diabetes yang tepat, termasuk perubahan gaya hidup, diet sehat, dan aktivitas fisik teratur. Namun, temuan studi ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang lebih spesifik gender dalam edukasi dan intervensi kesehatan. Ahli endokrinologi Dr. Budi Santoso dalam sebuah wawancara dengan Kompas TV menyatakan, “Perbedaan biologis dan sosial antara pria dan wanita memengaruhi bagaimana diabetes berkembang dan bagaimana tubuh merespons pengobatan. Pendekatan ‘satu ukuran untuk semua’ mungkin tidak lagi memadai.”.
Para peneliti merekomendasikan agar program skrining dan intervensi diabetes dirancang dengan mempertimbangkan faktor gender. Edukasi kesehatan perlu disesuaikan untuk menyampaikan risiko spesifik yang dihadapi oleh masing-masing gender, serta mendorong mereka untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan dan memantau kondisi diabetes mereka.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dr. Siti Aminah, dalam keterangan persnya pekan lalu, menyambut baik temuan studi ini dan menyatakan akan meninjau kembali panduan penanganan diabetes nasional agar lebih mempertimbangkan aspek perbedaan gender. “Kami akan berkoordinasi dengan para ahli dan organisasi profesi untuk mengintegrasikan temuan ini ke dalam kebijakan kesehatan publik kita,” ujar dr. Aminah.
Langkah selanjutnya yang perlu dipantau adalah bagaimana rekomendasi dari studi ini akan diimplementasikan dalam program kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sinkronisasi kebijakan dan peningkatan kesadaran publik menjadi kunci untuk mengurangi kesenjangan harapan hidup yang disebabkan oleh diabetes.
