Paparan asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat memicu penyakit serius seperti pneumonia. Partikel halus dalam asap mampu menembus jauh ke dalam paru-paru, menyebabkan peradangan dan kerusakan yang berujung pada infeksi.
Proses terjadinya pneumonia akibat asap Karhutla dimulai ketika partikel-partikel halus berukuran PM2.5 dan PM10 terhirup. Partikel ini, yang berasal dari pembakaran materi organik seperti daun, ranting, dan gambut, memiliki kemampuan untuk masuk ke saluran pernapasan bagian dalam, termasuk alveoli, tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, asap Karhutla mengandung berbagai zat berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik volatil. Zat-zat ini dapat mengiritasi lapisan saluran pernapasan, merusak sel-sel epitel, dan mengganggu mekanisme pertahanan alami paru-paru. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan patogen, termasuk bakteri dan virus.
Dokter spesialis paru, dr. Faisal Yunus, pernah menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan media bahwa iritasi kronis akibat paparan asap dapat melemahkan silia, struktur seperti rambut halus yang berfungsi membersihkan saluran napas dari debu dan kuman. Ketika silia ini tidak berfungsi optimal, lendir dan partikel asing akan menumpuk di paru-paru, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bakteri penyebab pneumonia.
Data dari berbagai survei kesehatan di wilayah terdampak Karhutla, seperti yang pernah dilaporkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menunjukkan peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), termasuk pneumonia, selama periode pekatnya asap. Anak-anak dan lansia, serta individu dengan riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK, merupakan kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi.
Selain pneumonia, paparan asap Karhutla juga dapat memperburuk kondisi penyakit pernapasan kronis, menyebabkan bronkitis, radang tenggorokan, dan bahkan masalah kardiovaskular akibat stres oksidatif yang dipicu oleh polutan udara.
Pemerintah, melalui berbagai kementerian dan lembaga, terus berupaya menanggulangi Karhutla dan memberikan imbauan kepada masyarakat. Salah satu langkah pencegahan yang ditekankan adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk dan menggunakan masker pelindung, seperti masker N95, untuk meminimalisir paparan partikel berbahaya.
Penting bagi masyarakat untuk terus memantau informasi kualitas udara dari instansi resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Lingkungan Hidup setempat. Pemantauan ini krusial untuk mengambil tindakan pencegahan yang tepat guna melindungi kesehatan dari ancaman asap Karhutla.
