Friday, 28 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Gorengan Rumahan Vs. Gorengan Luar: Mana yang Lebih Sehat? Ahli Gizi Ungkap Fakta

Oleh Destian August 28, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Pertanyaan klasik mengenai kesehatan gorengan rumahan dibandingkan dengan yang dijajakan di luar kerap menjadi perdebatan. Banyak yang beranggapan bahwa memasak sendiri di rumah memberikan kontrol lebih besar atas bahan dan prosesnya, sehingga berpotensi lebih sehat. Namun, benarkah demikian? Ahli gizi memberikan pandangan yang perlu dicermati agar masyarakat tidak salah kaprah.

Menurut Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes., seorang ahli gizi, anggapan bahwa gorengan rumahan secara otomatis lebih sehat adalah sebuah kesalahpahaman umum. Ia menekankan bahwa faktor utama yang menentukan tingkat kesehatan sebuah makanan olahan adalah cara pengolahannya, bukan semata-mata tempat pembuatannya.

Salah satu aspek krusial yang sering diabaikan adalah penggunaan minyak goreng. Dalam konteks gorengan, minyak yang digunakan berulang kali dalam proses penggorengan, baik di rumah maupun di tempat umum, dapat mengalami degradasi. Minyak yang sudah dipanaskan berulang kali akan menghasilkan senyawa berbahaya seperti aldehida dan akrolein, yang bersifat karsinogenik atau berpotensi menyebabkan kanker.

Dr. Rita menjelaskan lebih lanjut bahwa jika minyak goreng di rumah sudah menghitam, berbusa, atau berbau tengik, maka itu adalah tanda bahwa minyak tersebut sudah tidak layak pakai. Menggunakan minyak bekas pakai dalam kondisi seperti ini akan membuat makanan yang dihasilkan menjadi tidak sehat, terlepas dari apakah itu dimasak di rumah atau dibeli dari pedagang.

Faktor lain yang memengaruhi kesehatan gorengan adalah jenis minyak yang digunakan. Minyak dengan titik asap tinggi, seperti minyak kanola, minyak bunga matahari, atau minyak alpukat, cenderung lebih stabil saat dipanaskan dibandingkan minyak dengan titik asap rendah seperti minyak zaitun extra virgin. Penggunaan minyak yang tepat dapat meminimalkan pembentukan senyawa berbahaya.

Selain itu, metode penggorengan juga berperan penting. Menggoreng dengan minyak yang terlalu sedikit atau dengan suhu yang tidak tepat dapat membuat makanan menyerap lebih banyak minyak. Makanan yang digoreng hingga kering dan renyah seringkali menunjukkan bahwa proses penggorengan telah berjalan dengan baik, meminimalkan penyerapan minyak berlebih.

Ahli gizi menyarankan agar masyarakat lebih kritis dalam memilih dan mengonsumsi gorengan. Jika memungkinkan, batasi frekuensi konsumsi gorengan. Pilihlah tempat makan yang terlihat menjaga kebersihan, terutama dalam hal penggantian minyak goreng secara berkala. Di rumah, selalu gunakan minyak goreng baru untuk setiap proses penggorengan atau maksimal gunakan kembali minyak goreng sebanyak dua kali dengan penyaringan yang baik.

Untuk menggoreng, disarankan menggunakan metode deep frying (terendam minyak sepenuhnya) dengan suhu yang tepat, sekitar 160-180 derajat Celsius. Setelah selesai menggoreng, tiriskan makanan dengan baik untuk mengurangi kadar minyak. Mengurangi konsumsi gorengan dan beralih ke metode memasak lain seperti merebus, mengukus, atau memanggang adalah langkah bijak untuk pola makan yang lebih sehat.

Informasi ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan label ‘rumahan’ sebagai jaminan kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai proses pengolahan dan pemilihan bahan tetap menjadi kunci utama dalam menikmati makanan favorit tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp