Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian materiil, tetapi juga berdampak signifikan pada kesehatan masyarakat, khususnya peningkatan kasus hipertensi. Kondisi ini menempatkan hipertensi sebagai penyakit nomor dua yang paling banyak dilaporkan di posko-posko kesehatan pasca-bencana, memicu kekhawatiran para tenaga medis dan ahli kesehatan.
Menurut data yang dihimpun dari berbagai posko kesehatan di wilayah terdampak, seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia pada 18 September 2025, lonjakan kasus hipertensi menjadi perhatian utama setelah kasus penyakit pernapasan. Dokter dan petugas medis di lapangan mencatat peningkatan signifikan pasien yang mengeluhkan gejala tekanan darah tinggi, baik dari kalangan dewasa maupun lansia.
Keterkaitan antara bencana alam seperti gempa bumi dengan peningkatan kasus hipertensi dijelaskan oleh para ahli medis sebagai respons tubuh terhadap stres akut. Dr. Budi Santoso, seorang spesialis jantung dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang aktif dalam penanganan pasca-bencana, menjelaskan bahwa stres yang dialami korban gempa, mulai dari rasa takut, kehilangan, hingga ketidakpastian masa depan, dapat memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Pelepasan hormon-hormon ini, lanjut Dr. Budi, dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sementara dan peningkatan detak jantung. Jika stres ini berlangsung terus-menerus akibat kondisi pasca-bencana yang belum pulih sepenuhnya, dapat berdampak pada peningkatan tekanan darah yang berkelanjutan dan berujung pada hipertensi kronis, terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko sebelumnya.
Selain stres psikologis, kondisi fisik pasca-gempa juga berkontribusi. Akses terbatas terhadap makanan bergizi, kurangnya istirahat yang memadai karena harus mengungsi, serta paparan cuaca buruk dapat memperburuk kondisi kesehatan. Perubahan pola makan menjadi lebih mengandalkan bantuan logistik yang mungkin tidak selalu memenuhi kebutuhan gizi seimbang juga menjadi faktor lain yang perlu diwaspadai.
Pihak Dinas Kesehatan Provinsi NTT melalui Kepala Dinasnya, dr. Meserasi B. D. B. Dima, dalam keterangan persnya menekankan pentingnya pemantauan kesehatan berkelanjutan bagi korban gempa. “Kami terus berupaya menyediakan layanan kesehatan di posko-posko darurat, namun kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara rutin sangat krusial, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tidak menular seperti hipertensi,” ujarnya.
Untuk mengatasi lonjakan kasus hipertensi ini, tim medis di lapangan tidak hanya fokus pada penanganan gejala, tetapi juga memberikan edukasi mengenai manajemen stres dan pentingnya gaya hidup sehat. Kampanye kesehatan tentang pentingnya menjaga pola makan, berolahraga ringan jika memungkinkan, dan mencari dukungan psikologis menjadi bagian integral dari upaya pemulihan pasca-bencana.
Pemerintah daerah dan lembaga terkait juga terus berkoordinasi untuk memastikan ketersediaan obat-obatan esensial, termasuk obat antihipertensi, di daerah terdampak. Rencana jangka panjang mencakup peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan dan program skrining kesehatan rutin bagi masyarakat rentan di wilayah yang terdampak gempa.
