Friday, 28 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Waspada! Kekurangan Zat Besi Ancaman Serius bagi Perkembangan Otak dan Tumbuh Kembang Anak

Oleh Destian August 28, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Kekurangan zat besi, sebuah kondisi yang kerap dianggap remeh, ternyata memiliki dampak signifikan dan jangka panjang terhadap perkembangan otak serta tumbuh kembang anak. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan kognitif, motorik, hingga kesehatan anak secara keseluruhan, bahkan pada tahap perkembangan janin.

Menurut Dokter Spesialis Anak, Dr. Rini Sekartini, dalam sebuah kesempatan yang dilansir oleh CNN Indonesia, zat besi memegang peranan krusial dalam pembentukan sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, yang berdampak pada penurunan suplai oksigen ke otak.

Dampak kekurangan zat besi pada anak tidak hanya terbatas pada anemia. Dr. Rini menjelaskan bahwa otak anak yang sedang berkembang sangat membutuhkan zat besi untuk pembentukan mielin, selubung pelindung saraf yang penting untuk transmisi sinyal saraf yang cepat dan efisien. Tanpa zat besi yang cukup, proses mielinisasi dapat terganggu, yang berujung pada penurunan fungsi kognitif seperti kemampuan belajar, memori, dan konsentrasi.

Lebih lanjut, kekurangan zat besi pada masa kehamilan juga menjadi perhatian serius. Ibu hamil yang mengalami defisiensi zat besi berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan bayi prematur. Zat besi sangat vital bagi perkembangan otak janin, dan kekurangannya di masa ini dapat menimbulkan defisit perkembangan neurologis yang bersifat permanen.

Ahli Gizi, Leona Victoria, dalam pernyataan yang juga dikutip CNN Indonesia, menekankan pentingnya pemenuhan zat besi sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan. Ia menyarankan agar ibu hamil mengonsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati, kacang-kacangan, dan sayuran hijau tua. Pemberian ASI eksklusif pada bayi juga penting, namun setelah usia 6 bulan, bayi membutuhkan asupan zat besi dari makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat.

Kekurangan zat besi pada anak usia dini dapat bermanifestasi dalam berbagai gejala, mulai dari anak mudah lelah, pucat, rewel, nafsu makan menurun, hingga gangguan pada perkembangan motorik seperti keterlambatan berjalan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat mempengaruhi prestasi akademik anak di kemudian hari dan meningkatkan risiko infeksi karena menurunnya fungsi kekebalan tubuh.

Melihat pentingnya isu ini, berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya kekurangan zat besi pada anak. Kementerian Kesehatan RI secara berkala melalui program-program kesehatan ibu dan anak, termasuk pemberian suplementasi zat besi bagi ibu hamil dan anak-anak yang berisiko. Sosialisasi mengenai pola makan bergizi seimbang yang kaya zat besi juga menjadi salah satu prioritas.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus mendorong edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya skrining dan pemantauan status gizi anak secara berkala. Pertemuan rutin dengan Posyandu dan konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi sarana efektif untuk mendeteksi dini dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat kekurangan zat besi.

Bagikan: Facebook X WhatsApp