Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa menjaga kadar gula darah pasien skizofrenia sama pentingnya dengan penanganan kesehatan mental mereka. Temuan ini menyoroti adanya kaitan signifikan antara gangguan metabolisme glukosa, seperti diabetes, dengan tingkat keparahan gejala skizofrenia dan respons terhadap pengobatan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Schizophrenia Bulletin pada awal 2024 ini mengamati data dari ratusan pasien skizofrenia dan menemukan bahwa individu dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol menunjukkan peningkatan risiko mengalami gejala psikotik yang lebih parah dan kesulitan dalam pemulihan.
Dr. Anya Sharma, peneliti utama studi dari Universitas Oxford, menjelaskan dalam sebuah pernyataan pers yang dirilis oleh institusi tersebut bahwa peningkatan prevalensi diabetes tipe 2 di kalangan populasi skizofrenia bukanlah suatu kebetulan. “Kami melihat adanya jalur biologis yang saling terkait antara peradangan kronis, disfungsi neurotransmitter, dan resistensi insulin pada pasien skizofrenia,” ujar Dr. Sharma.
Data menunjukkan bahwa pasien skizofrenia memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibandingkan populasi umum. Faktor-faktor seperti gaya hidup yang kurang aktif, pola makan yang buruk, efek samping obat antipsikotik tertentu yang dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan, serta stres kronis diduga berkontribusi pada tingginya angka ini.
Lebih lanjut, studi ini menggarisbawahi bahwa kadar gula darah yang tinggi dapat memperburuk peradangan di otak, yang merupakan salah satu komponen kunci dalam patofisiologi skizofrenia. Peradangan ini diyakini dapat mengganggu fungsi sirkuit saraf yang terlibat dalam kognisi, emosi, dan persepsi, sehingga memperparah gejala seperti halusinasi dan delusi.
Para ahli merekomendasikan agar tim medis yang merawat pasien skizofrenia secara proaktif melakukan skrining rutin untuk diabetes dan gangguan metabolisme glukosa lainnya. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan psikiater, endokrinolog, ahli gizi, dan profesional kesehatan lainnya menjadi krusial untuk memberikan perawatan yang komprehensif.
Perubahan gaya hidup, termasuk diet seimbang yang rendah gula dan karbohidrat olahan, serta peningkatan aktivitas fisik, harus diintegrasikan ke dalam rencana perawatan pasien skizofrenia. Pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya pengelolaan gula darah juga menjadi salah satu kunci keberhasilan penanganan jangka panjang.
Langkah selanjutnya yang perlu dipantau adalah pengembangan pedoman klinis yang lebih spesifik mengenai manajemen komorbiditas metabolik pada pasien skizofrenia. Organisasi kesehatan dunia dan badan penelitian terkait diharapkan dapat segera merilis rekomendasi terbaru berdasarkan temuan-temuan studi seperti ini untuk meningkatkan kualitas hidup penderita skizofrenia.
